Teheran – Kelompok aktivis Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 2.003 orang tewas akibat tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap gelombang protes nasional yang berlangsung lebih dari dua pekan.
Dari total korban tewas, sekitar 1.850 orang adalah demonstran, sementara 135 orang berafiliasi dengan pemerintah. Sedikitnya sembilan anak-anak dan sembilan warga sipil yang tidak terlibat protes juga dilaporkan tewas. Selain itu, lebih dari 16.700 orang ditahan, demikian dikutip dari Associated Press, Rabu (14/1/2026).
Laporan ini muncul setelah warga Iran untuk pertama kalinya dalam beberapa hari dapat melakukan panggilan telepon ke luar negeri, usai pemerintah memutus akses komunikasi selama operasi penumpasan demonstrasi.
Televisi pemerintah Iran akhirnya mengakui adanya korban jiwa setelah lama bungkam, namun tidak merilis angka pasti. Pejabat hanya menyebut adanya “banyak martir” dan beralasan bahwa keterlambatan pengumuman data disebabkan oleh kondisi jenazah yang sulit diidentifikasi akibat luka parah.
Protes bermula dari kemarahan publik terhadap memburuknya kondisi ekonomi, terutama runtuhnya nilai tukar Rial Iran. Namun dalam waktu singkat, demonstrasi berkembang menjadi tuntutan politik yang langsung menyasar rezim teokrasi, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang kini berusia 86 tahun.
Presiden AS Donald Trump memberikan dukungan terbuka kepada para demonstran melalui platform Truth Social. “Para Patriot Iran, TERUSLAH BERPROTES – KUASAI INSTITUSI KALIAN!!!” tulis Trump.
Trump juga menyatakan telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga penumpasan demonstran dihentikan, meski ia tidak merinci bentuk “bantuan” yang dijanjikannya.
Pemerintah Iran cenderung mengecilkan jumlah korban demonstran dan melabeli mereka sebagai “perusuh yang didukung asing”, sementara pihak AS sering menggunakan data dari kelompok aktivis seperti HRANA untuk menekan rezim Iran secara internasional.


