Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam menyusul eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Mengutip Reuters, Senin, 2 Maret 2026, harga minyak mentah Brent sempat naik lebih dari 4 persen ke level 76,07 dolar AS per barel dan bahkan menyentuh 82 dolar AS per barel sebelum terkoreksi. Sementara minyak mentah AS turut naik hampir 4 persen menjadi 69,59 dolar AS per barel.
Lonjakan harga dipicu kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair. Meski selat itu belum sepenuhnya ditutup, data pelacakan pelayaran menunjukkan banyak kapal tanker tertahan di kedua sisi selat akibat risiko serangan dan kendala asuransi.
Analis Rystad Energy, Jorge Leon, menyebut dampak paling nyata bagi pasar minyak adalah terhentinya arus sekitar 15 juta barel minyak per hari dari kawasan tersebut. Ia memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi jika tidak ada tanda-tanda deeskalasi dalam waktu dekat.
Sebagai perbandingan, embargo minyak Timur Tengah pada 1970-an pernah mendorong harga minyak melonjak hingga 300 persen. Analis Wood Mackenzie menilai lonjakan harga melampaui rekor historis sangat mungkin terjadi dalam kondisi pasar yang saat ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi AS pekan ini, termasuk survei manufaktur ISM, data penjualan ritel, dan laporan ketenagakerjaan. Jika data menunjukkan pelemahan ekonomi, hal itu dinilai dapat mengguncang kepercayaan investor, sekaligus membuka peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS.


