Beirut — Sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 lainnya luka-luka akibat serangan udara besar-besaran Israel di Lebanon pada Rabu, 9 April 2026, hanya beberapa jam setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata sementara.
Lebih dari 100 serangan udara menghantam Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan dalam satu hari, menjadikannya eskalasi paling mematikan sejak konflik kembali memanas pada awal Maret. Sejumlah target berada di kawasan padat penduduk dan dilaporkan diserang tanpa peringatan.
Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine menyatakan korban terus berdatangan ke rumah sakit dan mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon. Palang Merah Lebanon mengerahkan sekitar 100 ambulans untuk mengevakuasi korban.
Militer Israel menyebut serangan tersebut menargetkan infrastruktur dan pusat komando Hizbullah sebagai operasi terkoordinasi terbesar dalam kampanye militer terbaru ini. Menteri Pertahanan Israel mengakui sejumlah lokasi yang diserang berada di area sipil.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam serangan itu dan menuduh Israel mengabaikan hukum internasional. PBB menyerukan penghentian segera konflik. Israel menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran dan menyatakan operasi militer terhadap Hizbullah akan terus berlanjut.
Sejak konflik kembali memanas pada 2 Maret, lebih dari 1.500 orang telah tewas di Lebanon dan sekitar 1,2 juta warga mengungsi.


