Teheran — Iran mengancam memberlakukan blokade total Selat Hormuz menyusul memanasnya situasi di Lebanon, yang memicu keraguan atas kelangsungan gencatan senjata yang baru diumumkan antara Amerika Serikat dan Iran, Kamis, 9 April 2026.
Pemerintah Iran menuding AS mengkhianati kesepakatan, terutama terkait perbedaan tafsir apakah konflik di Lebanon termasuk dalam cakupan perjanjian. Parlemen Iran juga menuduh AS gagal memenuhi syarat terkait kebijakan nuklir, sehingga Iran merasa tidak lagi terikat pada kesepakatan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan dunia menyaksikan situasi di Lebanon dan mendesak AS untuk menepati komitmennya.
Ancaman penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran global mengingat sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut. Iran juga disebut berencana memberlakukan biaya bagi kapal yang melintas, sesuatu yang selama ini tidak pernah terjadi karena jalur itu dianggap perairan internasional bebas.
Gedung Putih mengecam ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan mendesak Iran membuka kembali jalur tersebut.
Gencatan senjata kian rapuh setelah Israel menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian AS-Iran dan menegaskan operasi militer terhadap Hizbullah akan terus berlanjut. Serangan udara Israel di Lebanon pada Rabu menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya. Trump dan Netanyahu menyatakan kesiapan melanjutkan operasi militer kapan saja jika situasi memburuk.


