Jakarta – Analis komunikasi politik Hendri Satrio menyayangkan atensi terhadap kasus Hogi Minaya baru muncul setelah viral di media sosial dan media massa.
“Tindakan seperti ini cukup bagus, menarik simpati publik kembali untuk mempercayai DPR sebagai perwakilan mereka. Namun kalau bisa, harusnya DPR yang bersuara terlebih dahulu, tidak menunggu viral baru dibahas,” kata Hensat, sapaan Hendri Satrio, Kamis (29/1/2026).
Hensat mengapresiasi langkah Komisi III DPR yang meminta penghentian kasus Hogi Minaya, warga Sleman, Yogyakarta yang ditetapkan tersangka saat melakukan pengejaran jambret tas istrinya.
Komisi III DPR membahas kasus Hogi secara khusus dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Kepala Kejaksaan Negeri Sleman, Kapolresta Sleman, serta kuasa hukum Hogi Minaya, Rabu (28/1/2026).
Dari sudut komunikasi politik, Hensat menilai langkah tersebut efektif untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap DPR.
“Tindakan Komisi III patut diapresiasi. Secara objektif (bisa) memulihkan keadilan hukum kepada Hogi. Komunikasi DPR tidak hanya untuk meredam emosi publik, namun juga menunjukkan lembaga mendengar dan melihat rakyat biasa,” tegas Hensat.
Kasus Hogi Minaya mencuat setelah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Sleman karena melakukan pengejaran terhadap pelaku jambret yang merampas tas istrinya. Penetapan tersangka ini menuai kritik publik karena dinilai tidak adil terhadap korban kejahatan yang berupaya melindungi keluarganya.


