Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah dinilai memiliki semangat kesetaraan yang sama dengan kebijakan seragam sekolah yang telah lama diterapkan di Indonesia.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio mengatakan MBG bertujuan menempatkan anak-anak dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi dalam satu ruang yang setara, tanpa membedakan status ekonomi mereka.
“MBG itu semangatnya sama persis dengan seragam sekolah. Kalau seragam kan semuanya sama: SD putih-merah, SMP putih-biru, SMA putih-abu-abu. Tidak ada yang bisa membedakan mana anak orang kaya, mana anak orang miskin. Itu yang ingin dicapai MBG,” ujarnya, Selasa (9/12/2025).
Hendri menegaskan pemilahan penerima manfaat berpotensi memunculkan kembali stigma dan persaingan kelas sosial di lingkungan sekolah.
“Kalau kemudian nanti dipilah, misalnya dalam satu sekolah, ada yang memang perlu mungkin sekitar 30-an persen diberikan MBG dan yang lain tidak, lama-lama mungkin sekolah akan membuat kelas tersendiri untuk anak-anak yang menerima MBG, dan ini secara sosial tidak bagus,” katanya.
Founder Lembaga Survei Kedai Kopi ini menyarankan pemerintah tetap melanjutkan pendekatan universal tanpa seleksi ketat berbasis kemiskinan di tingkat sekolah.
“Biarkan semua anak makan bersama, merasakan menu yang sama, duduk di kantin yang sama. Justru di situlah pendidikan karakter dan kebangsaan itu terbentuk. Bukan dengan memisahkan mereka sejak dini,” tutupnya.


