Jakarta – Anggota DPD RI asal DI Yogyakarta, Hilmy Muhammad, meminta Presiden Prabowo Subianto meniru strategi diplomasi Presiden pertama RI, Soekarno, dalam membangun solidaritas negara-negara non-blok.
Hal itu disampaikan Gus Hilmy, sapaan akrabnya, melalui keterangan resmi yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 1 Maret 2026.
“Kita ingin melihat hasil Pak Prabowo keliling dunia ke mana-mana, juga menghasilkan perdamaian dunia, bukan sekadar membuka investasi bagi Indonesia, sementara dunia bergerak menuju konflik terbuka,” ujar Gus Hilmy.
Ia menilai semangat diplomasi Soekarno yang membela kepentingan bangsa-bangsa lemah di tengah rivalitas adidaya perlu dihidupkan kembali. Menurutnya, hal itulah yang menjadikan Soekarno dihormati oleh negara-negara tak berdaya hingga membentuk kekuatan non-blok.
“Semangat inilah kiranya yang dulu dilakukan oleh Presiden Soekarno, di tengah kecamuk situasi yang keras antara Amerika dan sekutunya, dan Uni Soviet beserta konco-konconya. Jadi kepentingannya bukan hanya untuk Indonesia,” katanya.
Gerakan Non-Blok digagas Soekarno bersama Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdul Nasser (Mesir), Kwame Nkrumah (Ghana), dan Joseph Broz Tito (Yugoslavia), dan diresmikan pada 1 September 1961 di Beograd, Yugoslavia, sebagai respons atas meluasnya konflik Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur.
Gus Hilmy menegaskan bahwa konflik AS-Israel dengan Iran menjadi ujian serius bagi tatanan dunia. Ia mendorong adanya kekuatan bersama untuk mendorong reformasi kelembagaan internasional jika lembaga global gagal merespons secara adil.
“Dunia tidak boleh dibiarkan berjalan dengan logika perang. Jika hukum kalah oleh kepentingan geopolitik, yang menang bukan perdamaian, yang ada justru ketidakpastian global,” pungkasnya.


