Jakarta – Anggota DPR RI Mardani Ali Sera menilai melemahnya kelas menengah berdampak serius terhadap ekonomi dan kualitas demokrasi Indonesia.
Pernyataan Mardani disampaikan merespons laporan Mandiri Institute yang mencatat jumlah kelas menengah Indonesia menyusut pada 2025, lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya.
Mandiri Institute mencatat jumlah kelas menengah turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Sekitar 1,1 juta orang keluar dari kelompok kelas menengah dalam setahun terakhir.
“Kelas menengah itu tulang punggung bangsa. Melemahnya kelas menengah bukan cuma berbahaya bagi ekonomi bangsa tapi juga berbahaya bagi demokrasi. Justru melemahnya kelas menengah membuat suram pemajuan bangsa,” kata Mardani melalui akun X miliknya, Jumat (13/2/2026).
Menurut Mardani, kelas menengah selama ini menjadi motor konsumsi, penggerak kewirausahaan, sekaligus penyangga stabilitas sosial dan politik. Ketika jumlahnya tergerus, daya dorong ekonomi nasional ikut melemah dan ruang partisipasi publik dalam demokrasi bisa terdampak.
Mardani mendorong adanya langkah konkret dan terukur untuk memperkuat kembali fondasi kelas menengah Indonesia. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang mampu memulihkan daya beli, memperluas lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan usaha produktif.
“Mesti ada gerakan kokoh membangun kelas menengah dengan aksi yang jelas dan segera,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah dapat merumuskan strategi komprehensif agar penyusutan kelas menengah tidak terus berlanjut dan justru berbalik menjadi penguatan, sehingga visi kemajuan bangsa dapat tetap terjaga.


