Bank Indonesia (BI) memastikan rencana redenominasi Rupiah alias pemangkasan angka nol di uang kita nggak akan bikin nilai uang turun atau daya beli masyarakat berkurang. Jadi, kalau nanti Rp1.000 jadi Rp1, nilai barang dan gaji tetap sama—cuma tampilannya yang lebih simpel.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, bilang redenominasi ini bagian dari upaya bikin transaksi lebih efisien dan memperkuat kredibilitas Rupiah di mata dunia.
“Redenominasi Rupiah itu cuma penyederhanaan digit, bukan pemotongan nilai uang. Daya beli tetap sama, harga barang juga nggak berubah,” jelas Denny, Senin (10/11/2025).
BI juga menegaskan langkah ini jadi bagian dari modernisasi sistem pembayaran nasional, supaya ekonomi Indonesia makin kuat dan relevan di era digital.
Tapi tenang aja, kebijakan ini nggak bakal langsung jalan. BI masih nyusun langkahnya secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi politik, ekonomi, sosial, dan kesiapan teknologi.
“Implementasi redenominasi bakal dilakukan di waktu yang tepat. Fokus utama BI tetap menjaga stabilitas Rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” tutup Denny.
Singkatnya, redenominasi bukan “uang dipotong”, tapi “angka disederhanakan” — biar transaksi makin efisien, dan Indonesia makin siap bersaing di level global.


