Beijing — Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 4,5 hingga 5 persen, level terendah sejak awal 1990-an. Target itu diumumkan dalam sidang tahunan parlemen China, “Two Sessions”, yang mempertemukan Kongres Rakyat Nasional dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok.
Penurunan target ini mencerminkan tekanan yang masih dihadapi ekonomi terbesar kedua dunia tersebut, mulai dari deflasi berkepanjangan, lemahnya daya beli masyarakat, hingga ketegangan dagang dengan Amerika Serikat. Dalam tiga tahun terakhir, Beijing selalu memasang target pertumbuhan sekitar 5 persen. Ekonomi China tercatat tumbuh 5 persen pada 2025, namun sejumlah indikator menunjukkan perlambatan masih berlanjut.
Pemerintah mempertahankan target defisit anggaran sekitar 4 persen dari PDB, angka yang pertama kali ditetapkan pada 2024 dan menjadi yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Target inflasi dipatok sekitar 2 persen, level terendah dalam lebih dari 20 tahun, seiring inflasi inti sepanjang 2025 yang hanya naik sekitar 0,7 persen.
Sebagai langkah stimulus, pemerintah berencana menerbitkan obligasi khusus jangka panjang senilai 1,3 triliun yuan dan menyiapkan dana 250 miliar yuan untuk program tukar tambah barang konsumsi guna mendorong belanja rumah tangga.
Ekonom senior Economist Intelligence Unit, Tianchen Xu, menilai target tersebut realistis. “Ini merupakan pergeseran lebih lanjut dari pola pikir mengutamakan angka menuju mengutamakan kualitas,” ujarnya, dikutip dari CNBC, Kamis (5/3/2026).
Di sektor ketenagakerjaan, pemerintah menargetkan tingkat pengangguran perkotaan sekitar 5,5 persen dan penciptaan 12 juta lapangan kerja baru. Tantangan utama yang masih membayangi meliputi krisis properti yang belum pulih, lemahnya kepercayaan konsumen, dan tingginya utang pemerintah daerah.


