Batam – Angka 573 bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan ratusan cerita tentang kehidupan yang berubah, harapan yang goyah, dan perjuangan melawan stigma yang kadang lebih menyakitkan daripada penyakitnya sendiri.
Setiap 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS Sedunia. Di Batam, momentum ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengingat keras: HIV masih mengintai, dan target utamanya adalah mereka yang tengah berada di puncak produktivitas.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam periode Januari hingga Oktober 2025 mencatat 573 kasus baru HIV dari 12.924 tes yang dilakukan. Angka ini lahir dari pemeriksaan di fasilitas kesehatan dan layanan jemput bola yang menjangkau sudut-sudut kota.
Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi menegaskan, temuan ini menunjukkan pentingnya deteksi dini dan kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV secara rutin.
“Temuan kasus ini menunjukkan pentingnya deteksi dini dan kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV secara rutin. Kita harus bergerak bersama menekan laju penularan HIV di Batam,” katanya, Senin (1/12/2025).
Usia Produktif, Risiko Tertinggi
Yang paling mengkhawatirkan: 64 persen atau 399 kasus terjadi pada kelompok usia 25–49 tahun. Mereka yang seharusnya membangun karier, keluarga, dan masa depan, justru harus berhadapan dengan diagnosis yang mengubah segalanya.
Kelompok usia di atas 50 tahun menyumbang 98 kasus (17 persen), usia 20–24 tahun sebanyak 91 kasus (16 persen), sementara remaja 15–19 tahun tercatat 17 kasus (3 persen).
“Ini menunjukkan bahwa usia produktif adalah kelompok paling rentan karena aktivitas sosial yang tinggi. Edukasi dan kesadaran perilaku aman menjadi kunci utama pencegahan,” tegas Didi.
Data juga menunjukkan kesenjangan gender yang mencolok. Laki-laki mendominasi dengan 438 kasus, sementara perempuan 135 kasus. Tingkat positif pada laki-laki mencapai 2,6 persen, jauh melampaui perempuan yang hanya 0,5 persen.
Pada kelompok usia produktif 25–49 tahun, 302 kasus adalah laki-laki dan 97 perempuan. Di usia di atas 50 tahun, tercatat 41 laki-laki dan 20 perempuan positif HIV.
Melawan Stigma, Bukan Hanya Virus
Didi menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS bukan hanya soal obat dan rumah sakit. Tantangan terbesar justdatang dari masyarakat: stigma dan diskriminasi yang membuat Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) enggan berobat dan menutup diri.
“HIV bukan akhir dari segalanya. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa hidup sehat dan produktif jika mendapatkan pengobatan yang tepat. Yang perlu dihilangkan adalah stigma dan diskriminasi,” ujarnya.
Pemerintah Kota Batam terus memperkuat jaringan layanan deteksi dini dan terapi ARV di puskesmas dan rumah sakit. Program edukasi masyarakat juga dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.
“Kami menargetkan peningkatan temuan kasus secara aktif sesuai Permenkes No. 23 Tahun 2022 dan Rencana Aksi Nasional Pencegahan & Pengendalian HIV/AIDS 2020–2024. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang pengendalian,” tambahnya.
Berani Tes, Menyelamatkan Nyawa
Pada momentum Hari AIDS Sedunia, Dinkes Batam mengajak masyarakat untuk berani melakukan tes, menggunakan layanan kesehatan pemerintah, dan menerapkan pola hidup sehat.
“Jangan takut untuk memeriksakan diri. Deteksi dini menyelamatkan nyawa, dan pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan,” tutup Didi.
Di balik angka 573, ada kehidupan yang menunggu untuk diselamatkan. Ada keluarga yang masih bisa dijaga keutuhannya. Dan ada masa depan yang masih bisa diperjuangkan—jika saja kita berani menghadapi kenyataan, bukan menghindarinya.


