Jakarta — Berkas terbaru Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengungkap bahwa terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein berupaya menjalin hubungan dengan elit politik Rusia dan berulang kali mencoba mengatur pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin, namun tidak ada bukti pertemuan itu benar-benar terjadi.
Dokumen yang dirilis memperlihatkan email sejak 2014 di mana Epstein berusaha menemui Putin dengan menawarkan proyek mata uang digital sebagai pintu masuk ke lingkaran Kremlin. Kremlin menepis isu tersebut, dikutip dari France24, Rabu, 18 Februari 2026.
Berkas yang sama menunjukkan jaringan Epstein secara aktif merekrut perempuan muda Rusia melalui agen model dan pencari bakat, dengan memanfaatkan keinginan para perempuan itu untuk pindah ke Amerika Serikat, termasuk kerentanan status imigrasi mereka.
Dokumen juga mencatat Epstein beberapa kali bepergian ke Rusia, termasuk mengajukan visa bisnis pada 2018 saat Piala Dunia berlangsung, dengan rencana menonton pertandingan di St. Petersburg dan Nizhny Novgorod. Ia juga tercatat menjalin komunikasi dengan sejumlah pejabat dan diplomat Rusia, melobi tokoh bisnis Amerika, serta mengatur program magang di New York untuk anak seorang diplomat Moskow.
Sebelumnya, Jeffrey Epstein pertama kali divonis pada 2008 dalam kasus prostitusi anak di bawah umur di Florida, namun hanya menjalani hukuman ringan setelah kesepakatan dengan jaksa. Ia kembali ditangkap pada Juli 2019 atas tuduhan perdagangan seks anak dan ditemukan meninggal di sel penjara Manhattan pada Agustus 2019 dalam kondisi yang masih diperdebatkan, dengan otoritas menyimpulkan kematiannya akibat bunuh diri.
Setelah kematiannya, tekanan publik mendorong otoritas AS untuk merilis dokumen-dokumen terkait jaringan Epstein secara bertahap. Berkas-berkas tersebut mengungkap keterlibatan sejumlah nama besar dari kalangan politik, bisnis, dan hiburan global, menjadikan skandal ini tidak hanya menyangkut kejahatan seksual, tetapi juga jaringan pengaruh dan akses ke elite internasional.


