Jakarta – Kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan yang direncanakan pemerintah usai Lebaran dinilai dapat menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) hingga 10 persen. Hal itu disampaikan Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, dalam wawancara televisi, Senin (23/3/2026).
“Hitungan kasar saya, ini bisa menekan konsumsi BBM hingga sekitar 10 persen. Kalau dikonversi ke nilai impor, penghematannya bisa mencapai triliunan rupiah per tahun,” ujar Wijayanto. Ia menyebut sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, dan Singapura telah lebih dulu menerapkan skema serupa tanpa gangguan berarti terhadap perekonomian.
Namun Wijayanto mengingatkan kebijakan ini akan menciptakan pergeseran ekonomi antarsektor. Sektor transportasi termasuk ojek online, serta usaha kuliner dan ritel di kawasan perkantoran diprediksi terdampak negatif. Sebaliknya, industri telekomunikasi, listrik, e-commerce, dan layanan pengiriman akan diuntungkan.
Wijayanto menegaskan WFH tidak bisa diterapkan secara seragam. Sektor manufaktur dan yang membutuhkan interaksi langsung justru bisa terganggu produktivitasnya. “Harus dipilah sektor mana yang bisa WFH dan mana yang tetap bekerja penuh di kantor,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya regulasi ketenagakerjaan yang jelas agar tidak memicu persoalan baru terkait pengaturan hari kerja dan lembur.
Anggota Komisi II DPR, M. Hozin, mengapresiasi langkah pemerintah namun meminta agar kebijakan tidak kontraproduktif. “Agar ada keseimbangan antara efektivitas pelayanan publik dan efisiensi penghematan BBM,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor demografi dan mobilitas di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya sebelum kebijakan diterapkan secara luas.


