Sektor manufaktur terus menunjukkan peran penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga triwulan II 2025, kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 16,92 persen.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan, sektor manufaktur tetap tumbuh stabil meski menghadapi disrupsi rantai pasok dan kenaikan biaya logistik. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) berada pada level 53,02, sementara Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke 51,5 pada Agustus 2025. Kenaikan ini merupakan ekspansi pertama dalam lima bulan terakhir.
“Beberapa bulan PMI kita itu walaupun ada dua bulan yang agak di bawah 50, tapi dua bulan terakhir juga sudah di atas 50,4. IKI pun juga stabil di 53,02,” ujar Faisol dalam acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran di Jakarta Selatan, Kamis (16/10/2025).
Sepanjang Januari–Agustus 2025, ekspor produk manufaktur mencapai 147,95 miliar dolar AS atau 79,9 persen dari total ekspor nasional sebesar 185,13 miliar dolar AS. Sektor ini juga mencatat realisasi investasi sebesar Rp 366,6 triliun dari total investasi nasional Rp 942,9 triliun pada semester I 2025, serta menyerap sekitar 19 juta tenaga kerja.
Faisol menyebut sektor padat karya seperti tekstil dan elektronik menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar selama setahun terakhir. Industri tekstil yang sebelumnya dianggap sebagai sunset industry kini kembali tumbuh, didorong relokasi investor asing.
Selain itu, industri berbasis mineral dan ekonomi kreatif mulai menunjukkan kinerja ekspor yang positif. Dari total investasi manufaktur, potensi tambahan penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai 13–15 persen atau sekitar 16–21 juta pekerja jika seluruh proyek investasi berjalan sesuai rencana.


