Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, akhirnya resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto. Penghargaan ini diberikan untuk jasanya di bidang politik dan pendidikan Islam, dalam upacara di Istana Negara, Senin (10/11/2025).
Dalam suasana haru, Sinta Nuriyah Wahid—istri mendiang Gus Dur—datang dengan kursi roda, ditemani Yenny Wahid. Keduanya menerima langsung simbol penganugerahan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/2025.
Lewat Keppres itu, negara menegaskan: “K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah tokoh bangsa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.”
Buat generasi sekarang yang mungkin lebih kenal Gus Dur lewat meme-meme lucunya, perlu tahu — beliau bukan cuma sosok humoris, tapi juga pembela minoritas, pejuang demokrasi, dan tokoh yang bikin perbedaan jadi hal yang dirayakan, bukan ditakuti.
Lahir di Jombang dari keluarga pesantren, Gus Dur tumbuh dengan dasar Islam yang kuat dan pemikiran terbuka. Ia sempat menempuh pendidikan di Mesir dan Irak, lalu memimpin Nahdlatul Ulama (NU) dengan gaya yang sangat progresif.
Lewat Forum Demokrasi, Gus Dur berani bicara tentang kebebasan sipil di masa ketika kritik ke pemerintah masih berisiko tinggi. Sebagai Presiden ke-4 RI, ia dikenal berani, nyentrik, tapi tulus memperjuangkan kemanusiaan tanpa pandang suku, agama, atau status.
Di bidang pendidikan Islam, Gus Dur juga punya visi keren — menggabungkan nilai keislaman dengan sains dan modernitas. Intinya, belajar agama tapi tetap maju dan terbuka pada perkembangan zaman.
Buat Gen Z yang tumbuh di era digital dan penuh perbedaan, semangat Gus Dur masih relevan banget: “Gitu aja kok repot?” — tapi di balik santainya, ada pesan dalam soal toleransi, kemanusiaan, dan berpikir bebas.


