Batam – Konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di puluhan negara dalam hampir satu bulan terakhir. Kamboja mencatat kenaikan tertinggi sebesar 67,81 persen.
Mengutip laporan Al Jazeera, lonjakan harga dipicu oleh terganggunya distribusi minyak dan gas dunia di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global dari kawasan Teluk.
Data Global Petrol Prices menunjukkan negara-negara Asia dan berkembang paling terdampak akibat tingginya ketergantungan pada impor energi. Jepang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk, sementara Korea Selatan sekitar 70 persen. Jepang telah menyiapkan pelepasan stok cadangan minyak strategis, sedangkan Korea Selatan menetapkan batas harga maksimum BBM untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Di Asia Selatan, Pakistan memangkas hari kerja pemerintahan menjadi empat hari sepekan dan menerapkan kebijakan kerja dari rumah 50 persen. Bangladesh menutup seluruh universitas negeri dan swasta untuk menghemat energi.
Di Indonesia, harga Pertamax naik 4,24 persen dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter. Di Amerika Serikat, harga bensin reguler naik sekitar 20 persen menjadi rata-rata US$3,58 per galon, bahkan melampaui US$5 per galon di California.
Lonjakan harga minyak juga dikhawatirkan mendorong kenaikan harga pangan global karena energi berperan dalam produksi pupuk, pengolahan, dan distribusi komoditas.
10 Negara dengan Kenaikan Harga BBM Tertinggi:
- Kamboja: 67,81 persen
- Vietnam: 49,73 persen
- Nigeria: 35,02 persen
- Laos: 32,94 persen
- Kanada: 28,36 persen
- Pakistan: 24,49 persen
- Maladewa: 18,54 persen
- Australia: 18,23 persen
- Amerika Serikat: 16,55 persen
- Singapura: 15,69 persen


