New York — Indonesia menyampaikan kecaman keras terhadap Israel dalam sidang darurat Dewan Keamanan (DK) PBB, Selasa, 31 Maret 2026, menyusul gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Sidang digelar atas permintaan Indonesia dan Prancis, dan dibuka oleh Presiden DK PBB yang juga Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz.
Tiga prajurit yang gugur adalah Mayor Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Farizal Rhomadhon. Lima personel lain mengalami luka-luka, yakni Kapten Sulthan Wirdean Maulana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Prajurit Deni Rianto.
Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi, menyampaikan duka dan kemarahan rakyat Indonesia di hadapan peserta sidang.
“Menyampaikan rasa duka cita, kemarahan, dan frustrasi lebih dari 285 juta penduduk Indonesia. Saya yakin rasa ini juga dirasakan oleh masyarakat dunia,” kata Umar.
Indonesia menegaskan insiden itu tidak terlepas dari tindakan militer Israel. “Eskalasi saat ini tidak muncul begitu saja. Hal ini berakar dari serangan berulang-ulang oleh Militer Israel ke wilayah Lebanon,” ujarnya.
Umar mendesak DK PBB menggelar investigasi menyeluruh dan meminta pertanggungjawaban dari semua pihak yang terlibat, termasuk Israel.
“Kami menuntut penyelidikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan alasan dari Israel. Hari ini, Dewan Keamanan harus bersuara dengan jelas, tegas, dan bersatu untuk mengutuk serangan terhadap personel pasukan penjaga perdamaian,” tegasnya.


