Batam – Rencana investasi perusahaan konsorsium Amerika Serikat dan Jerman melalui PT Wiraraja GEISEP di Batam belum terealisasi akibat persoalan lahan dan perizinan. Direktur Politeknik Negeri Batam, Bambang Hendrawan, mengingatkan agar hambatan internal segera diselesaikan sebelum investor beralih ke negara lain.
Bambang menilai Batam memiliki modal kuat untuk masuk ke industri semikonduktor, meliputi lokasi strategis, basis industri elektronik, serta sumber daya manusia yang telah disiapkan. Politeknik Negeri Batam bahkan telah membuka program studi semikonduktor sejak 2017.
Ia menegaskan momentum investasi harus dimanfaatkan sekarang, mengingat kebutuhan semikonduktor global terus meningkat seiring perkembangan kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan energi terbarukan. Jika investasi terealisasi, dampaknya dinilai signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Batam.
“Kalau betul investasinya sampai ratusan triliun, multiplier effect-nya pasti jauh lebih besar. PDRB Batam bisa melesat kalau semuanya berjalan normal,” ujar Bambang, Sabtu (4/4/2026).
Bambang memperingatkan bahwa negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan India tengah agresif membangun ekosistem semikonduktor dengan insentif dan kepastian regulasi yang lebih siap. Batam berisiko ditinggal investor jika persoalan internal tidak segera dituntaskan.
“Jangan sampai peluang yang ada gagal hanya gara-gara kita tidak bisa merembukkannya dengan baik. Begitu mereka pindah, negara tujuan mereka akan makin kuat, sementara kita tetap di posisi sekarang,” tegasnya.


