Bali – Investigasi Hey Bali mengungkap industri hiburan dewasa global telah memanfaatkan area di sekitar pura sebagai lokasi syuting konten eksplisit, dengan bukti pertama muncul sejak Agustus 2025.
Rekaman dan bukti menunjukkan segmen industri pornografi memanfaatkan area di sekitar pura—beberapa hanya berjarak beberapa meter—sebagai latar visual untuk konten eksplisit. Namun, tidak ada tindakan tegas yang diambil sejak peringatan pertama disampaikan.
Tinjauan eksklusif Hey Bali menemukan klip mentah yang diperoleh dari sumber rahasia berbulan-bulan sebelum kasus penangkapan artis Inggris Bonnie Blue dan 17 orang lainnya di vila Pererenan pekan lalu. Rekaman menunjukkan produksi film dewasa profesional di vila dengan pemandangan langsung ke zona sakral atau bersebelahan dengannya.
Dinding batu pura dan kain kuning-putih yang melambangkan Surya terlihat jelas di latar, sementara para pelaku berada sekitar satu meter dari batas area suci.
“Beberapa produksi ini difilmkan sangat dekat dengan pura—ruang yang seharusnya untuk spiritualitas, bukan pornografi,” kata Glostanovlatto, pendiri Hey Bali.
“Industri ini memperlakukan Bali seperti set film belaka. Mereka mengabaikan bobot budaya dan religius yang melekat pada tempat-tempat ini,” sambung Glostanovlatto.
Pada Agustus 2025, Hey Bali bersama beberapa jurnalis lokal mulai melacak pola mencurigakan, termasuk warga asing yang masuk sebagai turis namun membawa peralatan produksi profesional, pergerakan terkoordinasi antar vila, dan aktivitas location scouting di sekitar area bernilai budaya tinggi.
“Kami sudah mengangkat tanda bahaya sejak saat itu. Data, rekaman, dan indikator jelas ada. Namun respons otoritas terkait dingin. Tidak ada aksi berarti,” jelas Glostanovlatto.
Tanpa intervensi, para kru produksi menjadi semakin berani. Saat kelompok Bonnie Blue akhirnya ditangkap, industri ini sudah memiliki waktu hampir setahun untuk mengembangkan jaringan dan mengakar lebih dalam.
Bagi masyarakat Bali, pura bukan sekadar bangunan namun entitas hidup yang merupakan titik temu antara manusia, leluhur, dan dewata. Menggunakan lingkungannya untuk syuting konten eksplisit dianggap menyentuh inti identitas kultural dan religius Bali.
Masalah ini juga melibatkan “wisatawan konten”—kreator OnlyFans, performer subscription-based, dan aktor dewasa lepas yang memproduksi materi selama berlibur. Banyak yang memilih vila dengan pemandangan ikonik Bali, termasuk yang dekat pura, karena nilai jual visualnya tinggi.
“Jika tidak ada perubahan sistemik, produksi serupa akan terus berdatangan. Mereka akan lebih hati-hati, lebih tertutup, dan lebih sulit dilacak,” tegas Glostanovlatto.
“Bali akan tetap jadi target karena dianggap cantik, terbuka, dan mudah dieksploitasi,” tandas Glostanovlatto


