Jakarta – Angka 604 terukir sebagai catatan kelam bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera. Di balik deretan angka itu, tersimpan ratusan kisah keluarga yang kehilangan orang terkasih, ribuan luka yang belum sembuh, dan harapan yang masih terapung di tengah lumpur.
Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera 2025 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Senin (1/12/2025) pukul 21.00 WIB, sebanyak 604 orang dinyatakan meninggal dunia akibat bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Namun tragedi belum usai. Sebanyak 464 orang masih hilang ditelan banjir dan longsoran tanah. Keluarga mereka masih menanti, berharap keajaiban membawa pulang orang-orang terkasih. Sementara itu, sekitar 2.600 orang mengalami luka-luka dengan berbagai tingkat keparahan.
Bencana ini menyapu 50 kabupaten di tiga provinsi, meninggalkan jejak kehancuran yang masif. Sebanyak 1,5 juta jiwa terdampak langsung, dan 570.700 orang masih bertahan di tempat pengungsian, jauh dari rumah yang dulunya hangat.
Infrastruktur hancur lebur. Data BNPB mencatat 3.500 unit rumah rusak berat, 4.100 unit rusak sedang, dan 20.500 unit rusak ringan. Masa depan anak-anak terancam dengan rusaknya 282 fasilitas pendidikan. Akses antardesa terputus karena 271 jembatan yang hancur.
Banjir bandang dan tanah longsor ini bukan sekadar bencana alam biasa. Ini adalah pengingat pahit tentang betapa rentannya kehidupan, dan betapa berat jalan yang harus dilalui para penyintas untuk bangkit kembali dari reruntuhan.
Di balik statistik yang dingin, terdapat tangis ibu yang kehilangan anak, jeritan pencari yang kelelahan, dan doa-doa yang terus dipanjatkan agar hujan reda dan tanah berhenti meluncur.


