Batam – Insiden kapal pengangkut limbah hitam kandas di perairan Dangas, Sekupang, Batam, Kamis (29/1/2026) sore, menimbulkan dampak serius bagi lingkungan, ratusan nelayan, dan kawasan wisata setempat.
Nelayan sekaligus humas Kawasan Wisata Tangga Seribu, Joni Ramson, menceritakan kapal LCT Mutiara Garlib Samudera mulai miring sekitar pukul 16.30 WIB akibat cuaca ekstrem dengan angin kencang dan gelombang tinggi.
“Kami melihat dari jauh kapal ini miring. Kapal itu bukan nabrak karang, juga bukan kebalik. Tapi cuaca ekstrem, air masuk ke palka dari bagian depan,” ujar pria yang akrab disapa Jo.
Air yang terus masuk membuat kapal perlahan miring. Jo sempat mengarahkan kapal agar mendekati perairan dangkal untuk mencegah tenggelam. Namun kemiringan kapal membuat mesin mati dan kapal akhirnya kandas.
Tujuh orang di atas kapal, terdiri dari enam anak buah kapal dan satu owner, berhasil dievakuasi oleh Jo dan nelayan setempat.
“Total ada tujuh orang di kapal itu. Kita nggak mikirin barangnya dulu. Yang penting ABK selamat semua,” ungkapnya.
Kapal tersebut mengangkut limbah hitam hasil pembersihan tangki kapal tanker yang rencananya akan menuju Batu Ampar. Dalam kondisi miring dan air laut pasang, muatan limbah keluar dengan sendirinya dan jatuh ke laut.
Jo menduga ratusan plastik dan jumbo bag berisi limbah B3 jenis slag yang kental menyebar mengikuti arus, sebagian menggumpal dan mencemari perairan dangkal hingga pesisir Pantai Dangas dan Tangga Seribu.
Nelayan berhasil mengangkat sekitar tiga ton limbah pada malam kejadian untuk mencegah penyebaran lebih luas. Namun saat air pasang, limbah kembali terbawa arus dan mencemari area yang sudah dibersihkan.
“Sudah kami angkut 3 ton, karena air pasang ini lah ke pesisir semua, kalau dibersihkan perkiraan mungkin bisa ini 10 ton,” kata Jo.
Dampak pencemaran kini dirasakan luas. Sebagai nelayan, Jo mengaku aktivitas melaut terganggu karena ikan menjauh dan alat tangkap seperti bubu tercemar minyak.
“Iya betul, sebentar lagi juga imlek. Kami nyari juga untuk dingkis. Tapi mau gimana lagi, minyak itu lengket ke bubu. Kepiting nggak mau masuk lagi,” keluhnya.
Jo menyebut kawasan Dangas merupakan daerah tangkapan nelayan dari berbagai wilayah. Khusus Dangas ada sekitar 30 nelayan, namun secara keseluruhan ratusan nelayan terdampak.
Kawasan Wisata Tangga Seribu direncanakan ditutup sementara demi keselamatan pengunjung. Jo memperkirakan pemulihan kawasan bisa memakan waktu hingga satu tahun dengan potensi kerugian mencapai Rp200 juta.
Berbagai pihak telah turun ke lokasi, termasuk Polairud, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan instansi lingkungan hidup. Sampel limbah juga telah diambil untuk pemeriksaan.
Namun hingga kini belum ada pembicaraan resmi terkait kompensasi atau rencana pembersihan lanjutan dari pihak perusahaan pemilik kapal.
“Kita berharap perusahaan bertanggung jawab. Ini bukan semata bencana alam, ada kelalaian. Walaupun yang bersihkan kita, mereka harus ada andilnya,” tegas Jo.


