Naiknya harga kebutuhan pokok bikin masyarakat kelas menengah Indonesia mulai mengencangkan ikat pinggang. Berdasarkan survei KedaiKOPI, banyak orang kini lebih fokus ke kebutuhan utama seperti makanan dan pendidikan. Sementara, untuk urusan nongkrong, fesyen, dan liburan mulai dikorbankan.
“Fokus konsumsi sekarang bergeser ke kebutuhan pokok. Harga pangan dan transportasi yang naik bikin daya beli masyarakat menurun,” ujar Ashma Nur Afifah, peneliti senior KedaiKOPI.
Survei yang dilakukan pada 14–19 Oktober 2025 terhadap 932 responden menunjukkan, 3 dari 5 orang mengaku pengeluarannya naik dalam tiga bulan terakhir. Artinya, walaupun pendapatan segitu-gitu aja, pengeluaran malah tambah berat.
Fenomena “Rojali”: Ramai di Mal, tapi Cuma Lihat-lihat
Istilah “Rojali” alias “Rombongan Jalan-jalan Lihat-lihat” makin populer di medsos. Fenomenanya nyata — mal tetap ramai, tapi banyak yang cuma window shopping.
“Tiga dari lima responden bilang mereka sering jalan-jalan tanpa niat belanja. Sekarang mal lebih kayak tempat coba barang, bukan beli,” kata Ashma.
Perang Harga & Perburuan Diskon
Kelas menengah sekarang makin cermat. Sekitar 94,5% responden rajin membandingkan harga di berbagai platform sebelum beli — dari e-commerce sampai pasar tradisional. Diskon jadi incaran utama, tapi banyak yang bilang promo sekarang nggak segitu menariknya lagi.
Paylater & Pinjol Jadi Penopang Gaya Hidup
Separuh responden pakai fitur paylater, sepertiga punya utang bank non-KPR, dan seperempat pernah pakai pinjol.
“Paylater dipilih karena gampang, tapi risikonya besar kalau gagal bayar,” tegas Ashma.
Bisa dibilang, ekonomi kelas menengah masih jalan karena ditopang “utang kecil-kecilan”.
Harapan ke Pemerintah
Meski tertekan, 58% responden masih menilai pemerintah berpihak ke kelas menengah. Tapi 37% lainnya merasa kebijakan yang ada belum cukup membantu.
KedaiKOPI menyarankan pemerintah untuk:
- Menstabilkan harga kebutuhan pokok
- Memberi insentif berbentuk layanan publik (misal: pemeriksaan kesehatan gratis)
- Buka lebih banyak pelatihan kerja & dukungan modal buat sektor informal
“Kalau lapangan kerja formal terbatas, minimal sektor informal harus stabil,” tutup Ashma.
Intinya nih, kelas menengah lagi adaptasi — tetap mau hidup nyaman, tapi harus lebih realistis. Nongkrong boleh, asal jangan bikin saldo merah.


