Drama proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) alias Whoosh belum juga reda. Kali ini, sorotan tajam mengarah langsung ke mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disebut sebagai sosok paling bertanggung jawab atas kerugian proyek ambisius tersebut.
Analis politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, dalam acara Rakyat Bersuara di iNews, menegaskan bahwa semua kekacauan dan pembengkakan biaya dalam proyek Whoosh nggak bisa dilepaskan dari tangan Jokowi.
“Tanggung jawab presiden yang namanya Joko Widodo,” tegas Ubedilah.
Proyek yang digadang-gadang sebagai simbol kemajuan transportasi Indonesia ini ternyata jauh dari kata mulus. Dimulai sejak 2016, Whoosh baru benar-benar rampung tujuh tahun kemudian, di 2023.
Menurut Ubedilah, cara kerja proyek ini justru seperti zaman dulu: penuh keterlambatan, perubahan anggaran, dan keputusan yang nggak konsisten alias mencla-mencle.
“Negara bangun proyek mercusuar, tapi dengan cara tradisional,” kritiknya.
Bahkan, ia menyebut proyek Whoosh berpotensi besar mengandung unsur korupsi, mengingat banyaknya pembengkakan biaya dan keputusan yang berubah-ubah selama prosesnya.
“Sangat wajar kalau proyek ini dibongkar,” lanjutnya.
Sebelumnya, beberapa pihak juga mendorong audit total terhadap proyek Whoosh, termasuk menyoroti peran para pejabat yang terlibat seperti Luhut Binsar Pandjaitan.
Buat generasi Z yang penasaran, proyek Whoosh ini awalnya diklaim sebagai simbol kemajuan transportasi modern Indonesia. Tapi dengan utang triliunan rupiah dan laporan kerugian yang terus mencuat, publik kini mulai bertanya-tanya: Apakah “Whoosh” benar-benar membawa kita melesat ke depan, atau justru bikin negara tekor makin dalam?


