Jakarta – Duka masih menyelimuti Sumatera. Sejak 24 November 2025, banjir bandang dan tanah longsor menerjang tiga provinsi—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga yang kehilangan rumah, harta, bahkan keluarga.
Di tengah kepedihan itu, gelombang solidaritas mengalir. Puluhan kelompok relawan berbondong-bondong datang, membawa sembako, obat-obatan, pakaian, dan harapan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, menyatukan langkah di lumpur dan reruntuhan untuk meringankan beban sesama.
Nama-nama besar pun tak absen. Humanies, organisasi kemanusiaan yang dipimpin mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, hadir langsung di lokasi bencana. Begitu pula konten kreator Ferry Irwandi yang membawa donasi mencapai Rp10 miliar, menunjukkan bahwa empati tak mengenal sekat profesi.
Namun, di antara hiruk-pikuk kehadiran berbagai relawan, ada satu nama yang justru menimbulkan pertanyaan: relawan Joko Widodo. Hingga Selasa, 9 Desember 2025, kehadiran mereka di lokasi bencana belum terlihat.
Absennya kelompok relawan mantan presiden dua periode ini tak luput dari perhatian publik, khususnya di media sosial. Peneliti media dan politik Buni Yani menyinggung hal ini melalui akun Facebook pribadinya.
“Puluhan relawan berlomba-lomba memberi bantuan ke korban bencana di Sumatera. Relawan JKW kemana ya?” tulis Buni Yani.
Pertanyaan sederhana itu memicu gelombang komentar warganet. Beragam spekulasi dan sindiran pun bermunculan, mencerminkan ekspektasi publik terhadap sosok yang pernah menjadi simbol kerja nyata selama sepuluh tahun memimpin Indonesia.
“Mana mau nongol. Ga ada nasbungnya,” tulis Nani Suryani.
“Ya ngurus ijazahnya blum klar,” sambung Tayup Tyup.
“Relawan jkw mah msh berkutat belain ijazah palsu wkwkwk,” lanjut Tommy Permana.
Di balik komentar-komentar itu, tersimpan harapan sederhana: bahwa di saat bencana, kehadiran dan tindakan nyata lebih berbicara daripada seribu janji. Sementara Sumatera masih berduka, pertanyaan tentang kehadiran relawan Jokowi tetap menggantung, menunggu jawaban yang mungkin datang—atau tidak sama sekali.


