Jakarta – Pagi itu, 12 Desember 2025, suasana Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi koper berisi obat-obatan dan perlengkapan medis. Sekelompok mahasiswa berseragam almamater Universitas Trisakti bersiap menuju Aceh, membawa misi kemanusiaan di tengah duka bencana banjir dan longsor yang melanda Serambi Mekkah.
Mereka bukan hanya membawa stetoskop dan termometer. Di dalam tas ransel, terpampang harapan untuk meringankan beban ribuan korban bencana yang kehilangan rumah, keluarga, bahkan akses komunikasi dengan dunia luar.
Sinergi Lintas Kampus untuk Aceh
Tim Satgas Bencana Universitas Trisakti untuk Sumatra ini bukanlah misi solo. Mereka berkolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala (USK), menjalin tangan dalam semangat gotong royong akademisi untuk sesama yang tengah berduka.
Dr. Dwi Agustawan Nugroho, Sp.THT-KL, yang memimpin tim, mengemas misi lima hari ini dengan cermat. Didampingi Wakil Ketua dr. Nany Hairunisa, MCHSc, mereka membawa kekuatan penuh: mahasiswa Tim Bantuan Medis Trisakti (TBMT), BEM Fakultas Kedokteran, presiden dan wakil presiden mahasiswa MM Usakti, hingga pecinta alam Aranyacala yang terbiasa dengan medan berat.
Sesampainya di Aceh, sambutan hangat Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes., Sp.OT, Dekan USK, menjadi penanda dimulainya kerja nyata. Bukan sekadar formalitas, melainkan koordinasi strategis untuk menjangkau 12 titik terdampak yang tersebar di pelosok.
Menyusuri Jejak Bencana
Dari Gampong Tanjung Ulim hingga dusun-dusun terpencil di Babah Krueng, tim bergerak. Pesantren Bustanul Aitam yang biasanya ramai dengan lantunan tahfiz, kini menjadi posko pengungsian. Di Lhok Sandeng, Sarah Mane, ratusan keluarga berkumpul dengan wajah lelah, menanti bantuan yang tak kunjung datang.
“Kami mendatangi Gampong Grong Grong Capa, Meunasah Mancang, Dayah Usen, hingga Dusun Pulo Kembang. Di setiap titik, cerita duka sama: rumah tersapu banjir, jembatan putus, akses kesehatan lumpuh,” kenang salah satu anggota tim.
Di Lueng Bimba dan Meunasah Balek Meurudu, tim tak hanya memberikan obat. Mereka hadir dengan sesi psikososial, mendengarkan trauma anak-anak yang kehilangan teman bermain, ibu-ibu yang kehilangan dapur tempat mereka memasak untuk keluarga.
Lebih dari Sekadar Bantuan Medis
Dr. Donna, Wakil Dekan III FK Usakti, melihat misi ini jauh lebih dalam dari sekadar distribusi obat dan pemeriksaan kesehatan.
“Kolaborasi antara Usakti dan USK ini diharapkan dapat menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan organisasi kemahasiswaan dalam merespons bencana secara cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam menghadapi situasi krisis kemanusiaan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Bagi dr. Donna, ini adalah pelajaran berharga bagi mahasiswa: bahwa ilmu kedokteran bukan hanya tentang diagnosis dan resep, tetapi tentang kehadiran di tengah penderitaan.
Dr. Yenny, Dekan FK Usakti, dengan tegas menyatakan komitmen institusinya. “Kami dari FK Usakti siap berkontribusi dalam setiap keadaan yang diperlukan,” tegasnya.
Kalimat sederhana itu bukan janji kosong. Bahkan sebelum tim medis tiba, ketika komunikasi seluler lumpuh dan dunia luar kesulitan menghubungi Aceh, Usakti telah bergerak cepat mengirimkan jaringan satelit Telkomsat. Sinyal itu menjadi harapan bagi warga untuk menghubungi keluarga, melaporkan kondisi, dan meminta bantuan.
Kepedulian yang Tak Berbatas
Wakil Rektor III Usakti, sebagai penanggung jawab kegiatan, menegaskan prinsip kemanusiaan yang dipegang teguh kampus. Donasi publik yang dibuka, sepenuhnya dialokasikan untuk korban bencana. Sedangkan seluruh biaya operasional Tim Satgas—dari tiket pesawat, akomodasi, hingga logistik—ditanggung penuh oleh Universitas Trisakti.
“Kami tidak ingin ada keraguan dari masyarakat yang ingin membantu. Uang mereka murni untuk Aceh, untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan,” jelasnya.
Hingga 16 Desember 2025, tim akan terus bergerak. Setiap hari adalah perjuangan baru: mendaki jalanan berlumpur, menyeberangi jembatan darurat, mendengar tangis dan harapan dari mata-mata yang lelah.
Namun satu hal pasti: di tengah kehancuran, ada secercah cahaya dari civitas akademika yang memilih hadir, bukan hanya sebagai akademisi, tetapi sebagai saudara.


