Jakarta – Lebih dari 600 orang tewas akibat banjir dan longsor yang melanda Indonesia, Thailand, dan Malaysia setelah hujan deras mengguyur kawasan Asia Tenggara selama sepekan. Badai tropis langka yang terbentuk di Selat Malaka memicu angin kencang dan hujan tanpa henti, memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Dikutip dari Reuters, Senin 1 Desember 2025, data terbaru BNPB hingga Minggu menunjukkan 442 orang meninggal di Indonesia. Thailand mencatat 170 korban, dan Malaysia tiga korban. Total warga yang terdampak di tiga negara ini mencapai lebih dari 4 juta orang, terutama di Thailand selatan dan Indonesia bagian barat.
Di Indonesia, Sumatera Barat menjadi wilayah paling terdampak, dengan tiga provinsi hancur akibat banjir bandang dan longsor. Banyak daerah terisolasi karena jalan tertutup material longsor dan jaringan komunikasi rusak. Tim penyelamat menggunakan helikopter untuk mengirim bantuan ke wilayah yang tidak bisa dijangkau lewat darat.
Sampai saat ini, pemerintah mencatat 406 orang hilang dan 213.000 warga mengungsi.
Di Thailand, pihak berwenang melaporkan 170 korban jiwa dan lebih dari 100 orang terluka. Provinsi Songkhla paling parah terdampak dengan 131 korban meninggal. Hat Yai mencatat curah hujan 335 mm dalam satu hari, tertinggi dalam 300 tahun. Jutaan warga Thailand selatan terkena dampaknya.
Malaysia telah mencabut peringatan badai dan hujan lebat. Langit diperkirakan mulai normal kembali, namun sekitar 18.700 warga masih bertahan di pusat-pusat pengungsian.
Negara tetangga dekat Indonesia itu juga mengevakuasi lebih dari 6.200 warga yang terjebak banjir di Thailand. Selain itu, seorang warga Malaysia dilaporkan hilang akibat longsor di Sumatera Barat, dan Kedutaan Malaysia meminta warga yang berada di wilayah tersebut untuk mendaftar demi memudahkan bantuan.
Sementara itu, di Sri Lanka, 153 orang tewas akibat badai siklon di Teluk Benggala. Sebanyak 191 orang hilang, dan lebih dari 500.000 warga terdampak.


