Jakarta — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan gula rafinasi impor yang seharusnya hanya digunakan untuk kebutuhan industri kini beredar dan membanjiri pasar konsumsi domestik. Hal itu disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
Laporan peredaran gula rafinasi tersebut datang dari sejumlah daerah, antara lain Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Gula rafinasi impor dijual sebagai gula konsumsi karena tingkat keputihannya memiliki standar ICUMSA yang mirip dengan gula putih produksi dalam negeri sehingga sulit dibedakan di pasar.
Amran menyebut kondisi ini sebagai anomali. Di satu sisi, produksi gula nasional masih kurang sekitar 200 ribu ton dari kebutuhan 2,8–2,9 juta ton per tahun. Di sisi lain, gula lokal tidak terserap dengan baik, dan harga molase terus turun dari Rp1.980 per liter pada Februari 2025 menjadi sekitar Rp1.024 per liter pada Maret 2026.
Selain persoalan distribusi, Amran menyoroti kondisi tanaman tebu ratoon yang sudah tidak layak produksi hingga 70–80 persen. Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan pembongkaran lahan ratoon seluas 300 ribu hektare secara bertahap, sekitar 100 ribu hektare per tahun selama tiga tahun, dengan anggaran Rp1,7 triliun untuk 2025.
Pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi tercapai paling lambat pada 2027.


