Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan direksi baru PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan dilantik pada Juni 2026 harus berani memberantas praktik manipulasi harga atau “goreng-menggoreng” saham.
Purbaya menjadikan keberhasilan memberantas spekulan nakal sebagai syarat utama jika BEI menginginkan insentif dari pemerintah.
“Mereka belum minta insentif. Kalau mereka mengerti insentif, saya akan tanya apa prestasinya, berapa orang (penggoreng saham) yang ditangkap,” kata Purbaya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat 2 Januari 2026.
Menkeu meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menembus level 10.000 tahun ini, didorong oleh target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen.
Purbaya menekankan pentingnya jajaran direksi yang memahami teknis pasar dan memiliki keberpihakan pada investor ritel dan institusi.
“Pokoknya harus bisa mengerti pasar, dan bisa mengembangkan base dari investor retail dan institusi di sini. Dan yang paling penting adalah mereka punya komitmen yang kuat untuk membersihkan pasar dari para penggoreng saham yang kurang bertanggung jawab,” ujarnya.
Berdasarkan aturan OJK, masa jabatan direksi periode 2022-2026 akan berakhir Juni mendatang. Setiap paket calon harus didukung minimal 10 Anggota Bursa (AB).
Berdasarkan POJK 58/2016, empat direksi saat ini masih berpeluang maju kembali, yaitu Direktur Utama Iman Rachman, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Irvan Susandy, Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko Sunandar, serta Direktur Pengembangan Jeffrey Hendrik.
Tiga direksi lainnya tidak dapat dicalonkan lagi karena telah menjabat selama dua periode, yaitu Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Kristian Manullang, serta Direktur Keuangan, SDM, dan Umum Risa Effennita Rustam.


