Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai Rusia dan China kemungkinan tidak akan terlibat langsung dalam konflik yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Keduanya diprediksi memilih memberikan dukungan dari belakang layar.
“Rusia dan China cenderung bermain di belakang layar. Bantuan militer, suplai logistik, teknologi drone, sistem pertahanan udara, itu lebih realistis dibanding keterlibatan langsung,” ujar Amir dalam keterangannya, Minggu, 1 Maret 2026.
Amir menjelaskan, keterlibatan langsung antara blok Barat dan blok Rusia-China berpotensi menjadi pemicu perang dunia. Oleh karena itu, kedua negara besar tersebut dinilai akan menghindari konfrontasi terbuka.
Selain dinamika geopolitik, Amir menyoroti ancaman terhadap Selat Hormuz sebagai titik paling krusial. Jalur strategis distribusi minyak dunia itu, jika terganggu akibat blokade atau operasi militer, dapat memicu lonjakan harga minyak global secara drastis.
Dampaknya, menurut Amir, tidak hanya dirasakan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global, termasuk Indonesia. Lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi domestik, membebani subsidi energi, melemahkan nilai tukar rupiah, serta mengguncang stabilitas pasar saham.
“Perang besar di Timur Tengah hampir selalu berdampak pada krisis ekonomi global. Indonesia harus waspada,” tegasnya.


