Jakarta – Kapel Kolese Kanisius di Menteng, Jakarta Pusat, menjadi saksi bisu kepergian seorang pemikir besar Indonesia. Lilin-lilin menyala di sepanjang lorong, diiringi doa sunyi dari ratusan umat yang datang memberikan penghormatan terakhir kepada Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ—sosok yang selama 71 tahun hidupnya menjadi jembatan antara iman, filsafat, dan kebudayaan.
Minggu malam, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB, Romo Mudji menghembuskan napas terakhirnya di RS Carolus, Jakarta Pusat. Kabar duka itu menyebar cepat melalui media sosial, salah satunya disampaikan oleh pejuang HAM Sumarsih lewat akun X pribadinya.
“Selamat jalan Romo FX. Mudji Sutrisno, SJ—semoga beristirahat dalam damai Tuhan dan langgeng di Surga,” tulis @sumarsih11, mewakili ribuan hati yang merasakan kehilangan mendalam.
Sunyi yang Kini Tak Lagi Berbisik
Bagi mereka yang mengenal Romo Mudji, kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang rohaniwan. Ia adalah sahabat bagi para seniman, guru bagi pencari makna, dan pejuang bagi mereka yang percaya bahwa keindahan adalah jalan menuju Yang Ilahi.
Lahir di Solo, 12 Agustus 1954, Romo Mudji menghabiskan hidupnya menjelajahi kedalaman spiritualitas melalui seni dan budaya. Kumpulan puisinya, Sunyi Yang Berbisik (2020), menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana keheningan bisa menjadi ruang dialog dengan Tuhan. Pameran sketsa Arupadhatu di Borobudur memperlihatkan kepekaan estetiknya yang luar biasa—goresan pensil yang sederhana namun sarat makna.
“Romo Mudji mengajarkan kami bahwa Tuhan tidak hanya ada di dalam kata-kata doa, tetapi juga dalam garis-garis seni, dalam irama musik gamelan, dalam kesunyian yang berbicara,” kenang seorang muridnya yang enggan disebutkan namanya.
Persemayaman dan Perjalanan Pulang
Jenazah Romo Mudji disemayamkan di Kolese Kanisius, Menteng, mulai Senin pagi, 29 Desember 2025. Dua malam berturut-turut, Misa Requiem (Misa Arwah) digelar untuk mendoakan perjalanan pulangnya—Senin dan Selasa, 29-30 Desember 2025, pukul 19.00 WIB di Kapel Kolese Kanisius.
Selasa malam, 30 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, jenazah akan diberangkatkan ke Girisonta, Semarang, tempat peristirahatan terakhirnya. Pemakaman dijadwalkan pada Selasa, 31 Desember 2025, didahului Ekaristi pukul 10.00 WIB di Gereja Paroki setempat, dilanjutkan prosesi pemakaman di Taman Maria Ratu Damai, Girisonta.
Warisan yang Tak Lekang Waktu
Romo Mudji bukan hanya meninggalkan buku dan lukisan. Ia meninggalkan cara pandang—bahwa iman dan budaya tak perlu bermusuhan, bahwa keindahan adalah bahasa universal untuk berbicara tentang Tuhan, bahwa dalam sunyi pun ada bisikan yang bermakna.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat, Romo Mudji mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenungkan, dan mendengarkan bisikan sunyi itu. Kini, di akhir tahun 2025, saat matahari terbenam di Girisonta, bisikan itu akan terus bergema dalam hati mereka yang pernah ia sentuh.
“Seni adalah doa yang kasat mata,” begitu sering ia berkata. Dan kini, hidupnya sendiri menjadi karya seni yang indah—sebuah doa yang akan terus menginspirasi generasi mendatang.


