Batam – Ratusan guru dan kepala sekolah se-Kota Batam mengikuti seminar pendidikan bertema “Transformasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai Inovasi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan” di Ballroom Hotel Harmoni One, Senin (1/12/2025).
Seminar tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) 2025.
Kegiatan menghadirkan narasumber Profesor Dr. Firdaus, akademisi pendidikan dan dosen Universitas Riau, perwakilan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kepri Warsita, dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Batam Efrius yang mewakili Wali Kota Batam.
Ketua PGRI Kota Batam Hendri Arulan mengatakan, seminar ini menjadi ruang refleksi bagi pendidik untuk memperkuat kualitas pembelajaran di era digital.
“Guru dan kepala sekolah harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pembelajaran tidak lagi sekadar berfokus pada hafalan, tetapi bagaimana mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Itulah makna dari deep learning,” katanya.
Hendri menjelaskan, seminar digelar khusus untuk kepala sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga SLTA sebagai strategi meningkatkan kapasitas kepemimpinan sekolah.
“Harapan kami, dari seminar ini lahir inovasi dan terobosan baru untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kota Batam. Kepala sekolah harus menjadi penggerak perubahan di satuan pendidikan masing-masing,” ujarnya.
Seminar merupakan kegiatan terakhir dari rangkaian perayaan HUT PGRI ke-80 di Batam. Sebelumnya telah dilaksanakan lomba seni, olahraga antar-guru, diklat peningkatan kompetensi guru, senam bersama, serta upacara peringatan HGN dan HUT Korpri.
Prof. Firdaus dalam paparannya menyampaikan bahwa transformasi pembelajaran berbasis deep learning merupakan kebutuhan mendesak untuk mengembangkan kompetensi pelajar abad ke-21.
“Mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sarana prasarana, tetapi ditentukan oleh kualitas proses belajar di kelas. Pembelajaran mendalam mendorong siswa memahami konsep secara utuh, mampu menganalisis, memecahkan masalah, dan berkolaborasi dalam konteks nyata,” jelasnya.
Prof. Firdaus menilai pendekatan deep learning relevan dengan implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas, pembelajaran berdiferensiasi, dan penilaian formatif.
Ia menyoroti beberapa tantangan pendidikan di Batam, antara lain rasio murid dan guru yang berbeda tiap wilayah, masih dominannya metode ceramah, belum optimalnya integrasi teknologi pendidikan, serta minimnya budaya refleksi guru.
“Batam memiliki potensi besar, tetapi transformasi harus dilakukan secara sistematis. Sekolah perlu membangun komunitas belajar profesional (PLC), menerapkan pembelajaran berbasis proyek, dan memanfaatkan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan (AI),” katanya.


