Jakarta – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami penurunan pada November 2025, tercatat sebesar 423,8 miliar Dolar AS.
Bank Indonesia melaporkan, angka tersebut turun 1,1 miliar Dolar AS dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai 424,9 miliar Dolar AS, Kamis (15/1/2026).
Secara tahunan, pertumbuhan ULN juga melambat. Jika pada Oktober pertumbuhannya masih 0,5 persen, pada November hanya tumbuh 0,2 persen. Penurunan terjadi baik di sektor pemerintah maupun swasta.
Utang Pemerintah
Posisi utang pemerintah turun menjadi 209,8 miliar Dolar AS. Hampir seluruh utang pemerintah (99,99 persen) merupakan utang jangka panjang.
Utang pemerintah dialokasikan untuk berbagai sektor prioritas:
- Kesehatan dan Sosial: 22,2 persen
- Pertahanan dan Keamanan: 19,7 persen
- Pendidikan: 16,4 persen
- Infrastruktur: 11,7 persen
- Transportasi: 8,6 persen
Utang Swasta
Utang sektor swasta turun menjadi 191,2 miliar Dolar AS. Mayoritas utang digunakan perusahaan di bidang industri pengolahan, jasa keuangan, listrik, gas, dan pertambangan yang menyumbang 80,5 persen dari total utang swasta.
Indikator Kesehatan Ekonomi
Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun menjadi 29,3 persen, menunjukkan kemampuan ekonomi nasional untuk menanggung utang semakin kuat. Sekitar 86,1 persen dari total utang Indonesia merupakan utang jangka panjang.
Bank Indonesia dan pemerintah berkomitmen menjaga koordinasi agar utang luar negeri dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tanpa mengguncang stabilitas negara.
Data Utang Luar Negeri:
- November 2025: 423,8 miliar Dolar AS
- Oktober 2025: 424,9 miliar Dolar AS
- Penurunan: 1,1 miliar Dolar AS
- Pertumbuhan tahunan: 0,2 persen
- Rasio terhadap PDB: 29,3 persen
- Utang jangka panjang: 86,1 persen


