Jakarta – Venezuela menghadapi tantangan berat memulihkan ekonomi setelah Presiden Nicolas Maduro dan istrinya ditangkap pasukan khusus Amerika Serikat dalam operasi di Caracas akhir pekan lalu.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat untuk sementara akan mengambil alih administrasi Venezuela hingga transisi kekuasaan berjalan aman.
“Kami akan menjalankan negara ini sampai transisi yang aman, tepat, dan bijaksana bisa dilakukan,” ujar Trump kepada wartawan di Mar-a-Lago, Florida, dikutip Fox Business, Senin (5/1/2026).
Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi mata uang Bolivar yang terpuruk parah. Data Trading Economics menunjukkan nilai Bolivar anjlok 469 persen dalam 12 bulan terakhir. Kondisi ini memperparah krisis ekonomi yang sudah berlangsung lama.
Profesor tamu Universitas Austin, Robert Wright, menyarankan penggunaan currency board, sistem yang mengaitkan nilai Bolivar langsung ke Dolar AS. Menurutnya, kebijakan ini dapat menstabilkan mata uang dan mencegah hiperinflasi. Venezuela pernah mengalami hiperinflasi ekstrem pada 2019 dengan inflasi mencapai lebih dari 344.000 persen.
Masalah ekonomi Venezuela berakar pada kebijakan ekonomi buruk sejak puluhan tahun lalu. Pada 1976, pemerintah menasionalisasi seluruh industri minyak dan gas, mengambil alih perusahaan asing seperti Exxon dan Shell untuk dikelola perusahaan negara PDVSA.
Kondisi PDVSA memburuk setelah pemogokan besar-besaran 2002. Pemerintah Hugo Chávez memecat lebih dari 18.000 pekerja berpengalaman, sebagian besar insinyur minyak. Akibatnya, produksi minyak anjlok dari 3,5 juta barel per hari pada 1997 menjadi sekitar 1,1 juta barel saat ini.
Trump menyatakan kemarahannya atas kondisi tersebut. “Kami membangun industri minyak Venezuela dengan talenta dan keahlian Amerika, lalu rezim sosialis mencurinya dari kami,” katanya dalam konferensi pers.
Dampak ekonomi sangat dirasakan rakyat. PBB mencatat sekitar 4 juta orang atau 15 persen penduduk Venezuela sangat membutuhkan bantuan pangan. Krisis makanan terlihat sejak 2016 dengan rak supermarket kosong. Pada 2018, rata-rata warga Venezuela kehilangan lebih dari 9 kilogram berat badan akibat kekurangan gizi.
Para ekonom menilai prioritas utama adalah mencegah kekacauan sosial, memastikan pasokan makanan, dan memulihkan layanan dasar.


