Di sebuah sudut asri Desa Nagrak, Kabupaten Bogor, derai tawa para lansia terdengar bersahutan di balai desa. Di atas meja panjang, bunga-bunga Rosella berwarna merah menyala tertata rapi, siap diolah menjadi minuman kesehatan. Pagi itu, suasana berbeda tampak di komunitas lansia Nagrak—mereka tengah belajar sesuatu yang baru: mengubah bunga sederhana menjadi peluang ekonomi.
Program tersebut merupakan hasil inisiatif tim dosen dan mahasiswa Universitas Trisakti melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemberdayaan Komunitas Lansia dalam Mengolah Aneka Minuman Kesehatan ‘Mantanbuta’ Berbahan Baku Hibiscus sabdariffa di Desa Nagrak, Kabupaten Bogor.”
Dipimpin oleh dr. Donna Adriani, M.Biomed, AIFO, bersama dr. Kurniasari, M.Biomed, dan Elfira Febriani Harahap, STP, M.Si, kegiatan ini berfokus pada peningkatan keterampilan dan kemandirian ekonomi lansia lewat pengolahan tanaman Hibiscus sabdariffa—lebih dikenal dengan nama Rosella. Mereka dibantu tiga mahasiswa muda Universitas Trisakti: Ratu Alvira Rachel Chaerudin, Tiara Alya Fauziyah, dan Cephas Lee Nafaro, yang turut menjadi penggerak semangat para peserta.
Dari Bunga Menjadi “Mantanbuta”
Dalam pelatihan itu, para lansia belajar membuat berbagai olahan berbasis Rosella seperti teh herbal, jamu, hingga yogurt sehat. Produk-produk ini kemudian diberi nama “Mantanbuta”—sebuah akronim unik yang menggambarkan semangat untuk tetap kreatif dan berdaya di usia senja.
Tak sekadar soal resep, tim Universitas Trisakti juga membekali peserta dengan ilmu tentang higienitas pangan, pengemasan produk, dan strategi pemasaran sederhana, agar hasil karya mereka dapat dipasarkan secara berkelanjutan.
“Rosella ini kaya manfaat, bisa bantu menurunkan tekanan darah dan menjaga imunitas tubuh. Tapi yang paling penting, lewat tanaman ini para lansia bisa tetap aktif dan produktif,” jelas dr. Donna Adriani di sela kegiatan, Kamis (6/11/2025).
Donna menambahkan, kegiatan tersebut merupakan implementasi nyata tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. “Kami ingin pengabdian ini tidak berhenti di pelatihan saja, tapi menjadi langkah awal agar para lansia bisa memiliki usaha kecil berbasis potensi lokal,” ujarnya.
Semangat Baru di Usia Senja
Salah satu peserta, Ibu Yati (67), tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Dulu saya cuma tahu Rosella itu tanaman hias. Sekarang saya tahu caranya bikin teh dan minuman dari bunga ini, rasanya enak dan bisa dijual,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Program ini pun menjadi bukti bahwa usia bukan batas untuk terus belajar. Bagi para lansia Nagrak, Rosella kini bukan sekadar bunga, melainkan simbol semangat hidup dan kemandirian.
Didukung oleh Kemdikbudristek
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikbudristek) tahun pendanaan 2025.
Harapannya, program ini menjadi contoh praktik baik (best practice) dalam pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas desa, Universitas Trisakti menunjukkan bahwa inovasi sosial bisa tumbuh dari hal sederhana—bahkan dari bunga Rosella yang tumbuh di pekarangan rumah.
“Kami percaya, keberdayaan tidak harus datang dari teknologi canggih atau modal besar. Cukup dari kemauan untuk belajar dan bekerja sama,” tutup dr. Donna Adriani.
Di akhir hari, para lansia pulang dengan tangan beraroma Rosella dan hati yang penuh semangat. Di balik kelopak merah itu, tersimpan harapan baru: masa tua yang tetap produktif dan bermakna.


