Jakarta – Realisasi penerimaan pajak hingga Oktober 2025 tercatat Rp1.459 triliun atau 70,2 persen dari target Rp2.076,9 triliun. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa angka tersebut turun 3,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Masih di bawah capaian tahun lalu,” ujarnya dalam paparan APBN KiTA di Jakarta, Jumat, 21 November 2025.
Penurunan terdalam terjadi pada PPh Badan yang turun 9,6 persen menjadi Rp237,56 triliun. PPh Orang Pribadi dan PPh 21 juga melemah dengan penurunan 12,8 persen. Sementara itu, kelompok PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 relatif stabil dengan penurunan tipis 0,1 persen.
PPN dan PPnBM tercatat turun 10,3 persen, terutama akibat tingginya restitusi pada Oktober. “Ada restitusi yang cukup tinggi bulan ini,” kata Suahasil.
Di sisi lain, kelompok pajak lainnya tumbuh 42,3 persen menjadi Rp197,61 triliun. Namun kenaikan tersebut belum mampu menutup penurunan signifikan pada pos-pos utama.
Melemahnya penerimaan berdampak pada pelebaran defisit APBN. Hingga 31 Oktober, defisit mencapai Rp479,7 triliun atau 2,02 persen terhadap PDB, meningkat dari posisi September sebesar Rp371,5 triliun. Dibandingkan periode yang sama pada 2024, defisit juga melebar dari Rp309,1 triliun.
Perlambatan pendapatan negara terjadi saat belanja tetap berjalan. Total pendapatan hingga Oktober sebesar Rp2.113,3 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp2.593 triliun dengan belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.879,6 triliun.
Memasuki akhir tahun fiskal 2025, pemerintah menghadapi tantangan menjaga pengelolaan APBN tetap terkendali di tengah tekanan penerimaan yang melemah.


