Jakarta – Badan pemantau iklim Uni Eropa Copernicus melaporkan tahun 2025 berpotensi menjadi tahun terpanas kedua dalam sejarah setelah 2024, Kamis (11/12/2025).
Suhu rata-rata global dari Januari hingga November 2025 meningkat 1,48°C di atas level pra-industri, mendekati ambang batas 1,5°C yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Samantha Burgess, pakar iklim Copernicus, menyatakan rata-rata suhu tiga tahun terakhir (2023-2025) kemungkinan melampaui batas 1,5 derajat Celsius untuk pertama kalinya.
“Satu-satunya cara untuk menahan kenaikan suhu di masa depan adalah menurunkan emisi gas rumah kaca secara cepat,” kata Burgess dikutip Japan Times.
November 2025 tercatat sebagai November terpanas ketiga dalam sejarah dengan suhu 1,54 derajat Celsius di atas era pra-industri. Suhu musim gugur di belahan bumi utara (September-November) menjadi yang tertinggi ketiga sepanjang catatan.
Asia Tenggara mengalami sejumlah bencana dalam periode ini. Filipina dilanda topan yang menewaskan sekitar 260 orang, sementara Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengalami banjir besar.
Copernicus memantau perubahan iklim menggunakan data miliaran pengukuran cuaca dari darat, laut, dan satelit sejak 1940. Lembaga ini menyatakan pemanasan global didorong oleh emisi manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil sejak revolusi industri.
Pertemuan COP30 di Brasil tahun lalu tidak menghasilkan komitmen baru untuk menghentikan penggunaan minyak, gas, dan batu bara.


