Jakarta – Pengamat politik M. Hatta Taliwang menilai kritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto lebih berkaitan dengan ekspektasi publik terhadap keberanian politiknya, khususnya ketegasan terhadap mantan Presiden Joko Widodo dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan.
“Kritik yang kencang di media sosial itu bukan karena MBG atau pupuk, tapi karena kekecewaan publik terhadap sikap presiden yang dianggap belum berani menyentuh Jokowi dan Luhut,” kata Hatta dalam akun Facebook pribadinya, Selasa (6/1/2026) malam.
Hatta menjelaskan, Jokowi dan Luhut merupakan simpul kekuasaan yang terhubung dengan birokrasi, aparat penegak hukum, oligarki ekonomi, hingga jaringan media.
Menurut Hatta, jika disentuh secara frontal, risikonya nyata berupa resistensi aparat, sabotase birokrasi, tekanan pasar keuangan, bahkan delegitimasi presiden.
Hatta menilai persepsi bahwa Presiden Prabowo “takut” perlu dilihat secara lebih jernih karena yang terjadi lebih merupakan kalkulasi kekuasaan.
“Dalam teori politik, ada model pembersihan kekuasaan frontal, kooptasi, dan erosi bertahap. Prabowo tampaknya memilih kombinasi kooptasi dan erosi bertahap,” kata Hatta.


