Jakarta – Harga emas dunia terkoreksi pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2026) setelah sempat mencapai rekor tertinggi.
Harga emas spot sempat naik ke level 4.887,82 dolar AS per ons, namun ditutup di level 4.778,51 dolar AS per ons. Koreksi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump melunakkan retorika politiknya terkait sengketa wilayah Greenland.
Trump menarik ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa dan menyatakan telah mencapai kerangka kesepakatan dengan NATO terkait Greenland. Pernyataan tersebut memicu kembalinya minat investor ke pasar saham dan mengurangi daya tarik logam mulia.
Bob Haberkorn, Senior Market Strategist RJO Futures, mengatakan pengumuman mengenai tarif Eropa mendorong pasar saham naik dan memberi tekanan pada logam mulia. Namun ia menekankan aksi jual ini bersifat sementara akibat respons terhadap berita dan tidak merusak tren jangka panjang emas.
Sepanjang tahun 2025, emas telah mencatatkan kenaikan 64 persen dan terus naik 11 persen sejak awal 2026. Prospek emas masih didukung spekulasi kebijakan Federal Reserve, dengan mayoritas ekonom memperkirakan suku bunga akan tetap ditahan hingga kuartal ini.
Perak spot mengalami koreksi tajam sebesar 3,6 persen ke level 91,17 dolar AS per ons, setelah sempat hampir menyentuh 96 dolar AS. Analis ANZ Soni Kumari menilai momentum perak menuju angka 100 dolar AS masih mungkin terjadi meski volatilitas sedang tinggi.
Logam lainnya juga menunjukkan pergerakan variatif. Platinum turun tipis ke 2.460,20 dolar AS setelah sempat menyentuh rekor harian, sementara paladium turun 2,1 persen ke posisi 1.825,85 dolar AS.


