Jakarta – Presiden Prabowo Subianto ditengarai marah besar terhadap praktik goreng saham yang merajalela di pasar modal Indonesia. Kemarahan itu diduga menjadi pemicu mundurnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dan sejumlah pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Syahganda Nainggolan mengungkapkan hal tersebut dalam podcast Madilog bersama Darmawan Sepriyossa, Minggu malam (1/2/2026), yang dikutip dari kanal YouTube Forum Keadilan TV.
“Nah tentu Prabowo marah. Ya makanya di sini kan banyak orang yang kebanyakan goreng-goreng saham. Nah ini kan kelakuan-kelakuan dari pemain pasar kita. Ini yang ingin dikoreksi,” ujar Syahganda.
Aktivis senior ini mencontohkan praktik goreng saham dalam skandal Subprime Mortgage 2008 yang menggoyahkan perekonomian Amerika Serikat. Menurutnya, hal serupa bisa terjadi di Indonesia.
Syahganda menilai jajaran BEI dan OJK harus bersikap profesional dan menindak tegas para penggoreng saham yang merugikan perekonomian nasional. Ia menyoroti lemahnya sanksi yang selama ini diterapkan.
“Sehingga jajaran bursa efek itu harus betul-betul memberikan sanksi. Kalau sekarang ini kan nggak, dia cuma sanksi-sanksi gitu, (langsung) keluar. Nggak ada pidananya untuk orang-orang yang menipu,” tegasnya.
“Itu yang saya pikir Prabowo marah dan dia tahu bahwa ini sebuah kejahatan,” pungkas Syahganda.
Sebelumnya, pemerintah telah memperingatkan akan menindak tegas praktik manipulative share pricing atau saham gorengan di pasar modal. Penegasan disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai rapat di Kantor Pusat Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Manipulasi harga saham dinilai merugikan investor, merusak kepercayaan pasar, serta mengganggu integritas sistem keuangan nasional.
Empat pimpinan OJK yang mengundurkan diri adalah Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar, Wakil Ketua Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi, dan Deputi Komisioner Aditya Jayaantara. Direktur Utama BEI Iman Rachman juga mengundurkan diri di waktu hampir bersamaan.
Latar Belakang:
Praktik goreng saham atau manipulasi harga saham telah lama menjadi masalah di pasar modal Indonesia. Praktik ini melibatkan manipulasi harga saham secara artifisial melalui transaksi fiktif atau penyebaran informasi menyesatkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Permasalahan ini semakin serius karena merugikan investor ritel, khususnya pelaku UMKM yang baru terjun ke pasar modal. Lemahnya penegakan hukum dan sanksi yang tidak menimbulkan efek jera membuat praktik ini terus berlanjut.
Mundurnya sejumlah petinggi BEI dan OJK secara bersamaan menjadi sinyal kuat bahwa pemerintahan Prabowo serius menata ulang tata kelola pasar modal Indonesia untuk menciptakan pasar yang lebih adil dan kredibel.


