Batam – Tim gabungan Bea Cukai dan TNI AL menggagalkan penyelundupan 104.082 ekor benih bening lobster (BBL) senilai Rp11,04 miliar di perairan Kepulauan Riau pada Rabu pagi.
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Khusus Kepri Sodikin mengatakan operasi dimulai dari informasi intelijen mengenai rencana pengiriman BBL secara ilegal ke luar negeri melalui jalur laut. Tim melakukan pemantauan intensif.
“Begitu kapal cepat (high speed craft/HSC) yang diduga memuat BBL ilegal mulai bergerak, Satgas Patroli Laut langsung melakukan pemantauan,” kata Sodikin.
Sekitar pukul 09.00 WIB, kapal cepat terdeteksi di Perairan Pulau Combol dan Selat Mi, Kabupaten Karimun, menuju Malaysia. Petugas melakukan pengejaran.
Nahkoda kapal berusaha kabur dengan melemparkan kotak-kotak berisi benih lobster ke arah kapal patroli sambil mempercepat laju kapal. Kejar-kejaran berakhir setelah kapal cepat kandas di perairan Selat Mi. Para pelaku melarikan diri, meninggalkan kapal dan muatannya.
Petugas mengamankan 21 kotak berisi 104.082 ekor benih bening lobster dengan perkiraan nilai ekonomi Rp11,04 miliar. Asal muasal benih lobster masih ditelusuri.
Seluruh benih lobster yang diamankan telah diserahkan untuk dikelola dan dibudidayakan sebelum dilepasliarkan ke laut di Perairan Pulau Galang Baru, Batam.
Wakil Komandan Komando Daerah Angkatan Laut IV Ketut Budiantara mengatakan operasi ini menunjukkan keseriusan negara melindungi kekayaan laut. “Keberadaan aparat di laut menjadi bukti negara hadir. Nilai yang berhasil kita selamatkan sekitar Rp11,4 miliar,” katanya.
Para pelaku terancam dijerat Pasal 102A UU Kepabeanan dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara dan denda hingga Rp5 miliar, ditambah ketentuan dalam UU Perikanan dan UU Karantina.
Sodikin menyebut ini penggagalan pertama penyelundupan BBL oleh Bea Cukai Kepri pada 2026. Pada 2025, instansinya dua kali menggagalkan penyelundupan serupa dengan total nilai Rp41,15 miliar.
“Keberhasilan ini adalah prestasi kita bersama. Ke depan, sinergi lintas instansi akan terus diperkuat untuk memberi efek jera dan menjaga keberlanjutan sumber daya laut,” katanya.


