Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimismenya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menembus 6% pada 2026. Pemerintah mengandalkan dua mesin pendorong utama, yakni stimulus fiskal dan penggerakan sektor swasta.
“Saya hidupkan fiskal, sudah mulai jalan. Moneter, private sector udah mulai jalan. Itu sudah 6% lebih di atas kertas,” kata Purbaya dikutip dari situs Kementerian Keuangan, Senin (23/2/2026).
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah telah membentuk Satgas Debottlenecking guna menyelesaikan hambatan usaha dan mendorong investasi. Hingga kini 44 kasus telah diselesaikan. Pemerintah juga memperketat pengawasan peredaran barang ilegal sebagai bagian dari perbaikan iklim usaha.
Di sisi fiskal, pemerintah mengalokasikan Rp 55 triliun untuk stimulus Lebaran dan Gaji ke-13 guna menjaga daya beli masyarakat. Purbaya juga menyebut ekonomi Indonesia tengah memasuki fase ekspansi yang diperkirakan berlangsung hingga 2030-2033.
Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2025 tercatat sebesar 5,39%, menjadi sinyal awal yang dinilai positif oleh pemerintah untuk mengejar target 6% sepanjang 2026. Target ini merupakan bagian dari agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menuju visi Indonesia Emas 2045.
Namun pencapaian target 6% bukan tanpa tantangan. Ketidakpastian ekonomi global, tekanan dari kebijakan tarif AS, serta masih lemahnya konsumsi domestik menjadi sejumlah faktor yang perlu diantisipasi. Pemerintah merespons dengan mempercepat realisasi belanja negara, memperbaiki iklim investasi, serta mendorong peningkatan likuiditas di sektor riil secara bersamaan.


