Jakarta – Ekonom Gede Sandra, menilai negara gagal meningkatkan penerimaan secara optimal selama era reformasi, meski pertumbuhan ekonomi relatif stabil di kisaran 4–5 persen per tahun. Ia mendorong sejumlah terobosan untuk memperbaiki kondisi fiskal nasional.
“Pertumbuhan ekonomi yang stabil seharusnya diikuti peningkatan penerimaan negara yang signifikan, tapi itu tidak terjadi selama periode reformasi,” ujar Gede Sandra di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Ia merinci empat langkah yang berpotensi mendongkrak penerimaan negara. Pertama, penertiban miss-invoicing yang diperkirakan dapat menambah penerimaan hingga Rp 110 triliun per tahun atau sekitar 0,5 persen PDB. Kedua, penertiban praktik transfer pricing dengan potensi tambahan Rp 76 triliun per tahun.
Ketiga, peningkatan kepatuhan pajak di sektor kelapa sawit. Gede mengacu pada pernyataan Gubernur Riau bahwa 30 persen perkebunan sawit di provinsi tersebut tidak membayar pajak. “Bila kepatuhan pajak sawit dapat ditingkatkan 30 persen, potensi tambahan penerimaan mencapai Rp 26 triliun,” katanya.
Keempat, perubahan skema bagi hasil pertambangan menjadi 50:50 antara perusahaan dan negara, yang diproyeksikan meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 300 triliun per tahun.
Terkait kebijakan Menteri Keuangan Purbaya yang menghapus PPh bagi pekerja berpendapatan di bawah Rp 10 juta, Gede mengapresiasi langkah tersebut. Namun ia mendorong tiga kebijakan tambahan untuk memperkuat daya beli masyarakat.
“Kenaikan UMP perlu dijaga di kisaran 7–10 persen agar daya beli pekerja dapat kembali ke level sebelum pandemi Covid-19,” ujarnya.
Selain itu, ia menyarankan agar rasio harga panen terhadap harga input pertanian seperti pupuk, bibit, dan obat dijaga pada kisaran 3:2 demi mendorong produktivitas petani dan menggerakkan ekonomi pedesaan. Ia juga mendorong percepatan program Reforma Agraria untuk mengalokasikan lahan secara proporsional bagi petani, industri, dan perumahan.
“Berdasarkan pengalaman negara-negara Asia Timur, Reforma Agraria terbukti mempercepat pertumbuhan ekonomi secara signifikan,” pungkas Gede Sandra.


