Jakarta – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tengah mengevaluasi investasinya di proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh menyusul kerugian yang mencapai Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun per tahun dari porsi kepemilikan saham tersebut.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, mengungkapkan beban investasi itu menjadi tantangan bagi kinerja laba bersih perusahaan. “Porsi kita itu setiap tahun membukukan kerugian yang memang cukup besar, kalau tahun 2025 kalau nggak salah Rp1,7 triliun atau Rp1,8 triliun membukukan kerugian hampir setiap tahun segitu,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/4).
WIKA saat ini memegang 33,36 persen saham di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium yang mengelola proyek kereta cepat tersebut. Agung menyampaikan keinginan perusahaan untuk melepas kepemilikan saham itu agar WIKA dapat kembali fokus pada kompetensi inti sebagai perusahaan kontraktor.
Namun, pelepasan saham tidak mudah dilakukan karena keterlibatan WIKA merupakan bagian dari penugasan berdasarkan Peraturan Presiden. “Yang bisa kita lakukan, ya kita minta pemerintah ataupun Danantara sebisa mungkin WIKA yang memang kondisinya sebenarnya kontraktor untuk tidak masuk ke situ,” kata Agung.
Di sisi lain, WIKA tengah menyelesaikan klaim senilai Rp5,02 triliun terkait pembengkakan biaya proyek melalui jalur mediasi bersama KCIC, dengan target tuntas tahun ini.
Adapun komposisi pemegang saham PSBI saat ini adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero) 58,53 persen, WIKA 33,36 persen, PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08 persen, dan PT Perkebunan Nusantara I 1,03 persen.


