Jakarta — Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai sikap Presiden Prabowo Subianto yang tidak langsung mengikuti komitmen dalam skema pendanaan Board of Peace (BoP) mencerminkan keinginan Indonesia untuk berdiri sejajar dengan negara-negara besar, bukan sekadar pengikut kebijakan mereka.
“Prabowo ingin menunjukkan bahwa Indonesia bukan objek kebijakan luar negeri negara besar,” kata Amir, Kamis (26/3/2026).
Amir menjelaskan, pendekatan tersebut dinilai penting di tengah konstelasi global yang berpotensi kembali dipengaruhi kepemimpinan transaksional seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurutnya, strategi yang diterapkan Prabowo adalah selective engagement — Indonesia tetap terlibat dalam forum internasional, namun dengan kendali penuh atas keputusan strategis nasional.
Skema BoP berkaitan dengan pendanaan rekonstruksi Gaza pascakonflik yang menghancurkan infrastruktur sipil dan memicu krisis kemanusiaan berskala besar.
Amir menyebut pendekatan Prabowo terhadap isu Palestina berbeda dari sekadar retorika. “Prabowo tidak ingin hanya berada di luar sistem sambil berteriak. Ia masuk ke dalam arena global, tetapi dengan kalkulasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah itu tetap selaras dengan amanat konstitusi Indonesia untuk ikut menjaga perdamaian dunia, tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi nasional.


