Jakarta — Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berada di angka 1,2 persen dan menempati urutan kesepuluh berdasarkan survei terbaru Poltracking Indonesia. Angka tersebut menempatkan PSI di bawah ambang batas parlemen sebesar empat persen.
Direktur Politic and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menilai keberadaan mantan Presiden Joko Widodo di lingkar partai belum mampu mendongkrak dukungan terhadap PSI, yang saat ini dipimpin oleh putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep.
“Kita lihat dari hasil survei itu bahwa Jokowi sudah tidak lagi bertaji, PSI rontok dan tetap menjadi partai gurem. Ini artinya cawe-cawe Jokowi untuk membesarkan partai ini gagal,” ujar Jerry dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Kamis (16/4/2026).
Jerry juga menyoroti masuknya mantan Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali ke PSI yang disebutnya belum berdampak signifikan terhadap elektabilitas partai. “Masuknya Jokowi dan Ahmad Ali belum mampu menaikkan elektabilitas partai,” katanya.
Sebagaimana diketahui, PSI didirikan pada 2014 sebagai partai yang menarget pemilih muda dan kelompok perkotaan. Partai ini gagal memenuhi ambang batas parlemen empat persen pada Pemilu 2019 dan 2024, sehingga tidak memiliki kursi di DPR RI.
Kaesang Pangarep, putra bungsu Joko Widodo, terpilih sebagai Ketua Umum PSI pada September 2023 — hanya dua hari setelah resmi bergabung. Pencalonan Kaesang memunculkan polemik karena dinilai tergesa-gesa dan tidak melalui mekanisme kaderisasi internal yang lazim.
Jokowi secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap PSI menjelang Pemilu 2024. Keterlibatan aktif mantan presiden dalam urusan partai — yang dikenal dengan istilah “cawe-cawe” — menuai kritik dari sejumlah kalangan yang menilai hal tersebut tidak etis bagi seorang kepala negara yang tengah menjabat.
Ahmad Ali, mantan Wakil Ketua Umum Partai NasDem, bergabung dengan PSI pada 2025 setelah meninggalkan NasDem. Ia diharapkan dapat membawa jaringan politik baru untuk memperkuat basis dukungan partai.
PSI sebelumnya membangun narasi akan menjadikan Jawa Tengah — salah satu provinsi dengan jumlah pemilih terbesar — sebagai basis utama untuk mendulang suara. Namun angka survei terkini menunjukkan target tersebut masih jauh dari terealisasi.
Poltracking Indonesia tidak merinci metodologi lengkap survei dalam keterangan yang beredar. PSI belum memberikan respons atas hasil survei ini hingga berita diturunkan.


