Jakarta — Ramalan mendiang politisi Rusia Vladimir Zhirinovsky tentang potensi Perang Dunia III yang dipicu konflik di Iran kembali viral, menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran akhir pekan lalu.
Dalam rekaman video yang pertama kali beredar pada 2022, Zhirinovsky memperingatkan bahwa dunia terlalu fokus pada konflik Rusia-Ukraina dan mengabaikan potensi ledakan di Timur Tengah.
“Akan ada peristiwa yang membuat semua orang lupa apa itu Ukraina. Masalahnya adalah tentang Perang Dunia Ketiga,” ujar Zhirinovsky dalam video tersebut, dikutip dari RT, Kamis (5/3/2026), seraya menyebut Iran sebagai titik rawan utama.
Ia juga memprediksi Israel akan menyerang fasilitas nuklir Iran, yang kemudian memicu serangan balasan dari Teheran dan mendorong AS untuk ikut campur dengan kampanye pengeboman besar-besaran. “Iran bukanlah Vietnam, bukan pula Korea Utara atau Kosovo. Di sinilah peristiwa paling mengerikan bisa terjadi,” katanya.
Prediksi itu kembali menjadi sorotan setelah AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran dengan alasan mencegah pengembangan senjata nuklir. Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.
Sejak serangan akhir pekan lalu, ketegangan terus meningkat. Serangan rudal dan drone dilaporkan terjadi di wilayah Iran, Israel, dan kawasan Teluk, dengan korban jiwa dilaporkan mencapai lebih dari 1.200 orang. Israel juga memperluas serangannya ke Lebanon setelah Hizbullah meluncurkan roket sebagai respons atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Konflik ini turut mengguncang pasar energi global. Respons Iran dilaporkan mengganggu pengiriman minyak mentah dan gas alam cair melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.
Vladimir Zhirinovsky adalah politisi berhaluan nasionalis Rusia dan pendiri Partai Liberal Demokrat Rusia (LDPR). Ia dikenal dengan pernyataan-pernyataan kontroversial dan kerap membuat prediksi geopolitik yang provokatif. Zhirinovsky meninggal pada April 2022, tak lama setelah konflik Rusia-Ukraina pecah. Rekaman ramalannya tentang Iran mulai beredar luas di media sosial seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah pascaserangan AS-Israel.


