Jakarta — Juru Bicara Presiden ke-4 Adhie M. Massardi meluncurkan buku terbarunya berjudul “Peradaban Not Just Civilization” di Gedung Hall Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026). Buku tersebut sekaligus dibedah bersama sejumlah tokoh nasional.
Acara dihadiri Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia) yang juga mantan Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif, budayawan Mohamad Sobary, mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu, dan Peneliti Politik Senior BRIN Siti Zuhro.
Adhie menjelaskan, buku tersebut ditulis berdasarkan kesadaran tentang arah pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Saya menulis deskripsi soal peradaban untuk dasar bagaimana menjadikan manusia emas Indonesia. Saya bikin lah, saya kontemplasi bahan-bahannya, dan akhirnya jadi,” kata Adhie.
Ia mengungkapkan, sebelumnya sempat diajak Sekretaris Jenderal Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Yosef Sampurna Nggarang untuk berdiskusi bersama Menteri Hukum Natalius Pigai tentang substansi visi Indonesia Emas 2045.
Adhie juga menyinggung penanganan terhadap Roy Suryo dan dr. Tifa sebagai contoh persoalan terkait hak masyarakat menyampaikan aspirasi yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam membangun Indonesia Emas.
“Contoh, misalnya kemarin bagaimana cara menangkap orang yang berbeda pendapat, Roy Suryo teman kita dan dr. Tifa, ini kan harusnya bangsa sendiri itu menghormati warga negaranya. Kalau bangsanya menghormati warga negaranya, dunia internasional juga akan menghormati kita,” ujarnya.
Adhie menyebut, buku tersebut sempat dipertimbangkan oleh Penerbit Buku Kompas karena tidak memuat banyak referensi tekstual, sebab isinya merupakan hasil kontemplasi atas realitas yang ada saat ini.
Dalam buku itu, Adhie juga menyinggung perkembangan artificial intelligence (AI) yang menurutnya merupakan produk peradaban dan kebudayaan. Ia menilai AI saat ini berpotensi tidak digunakan sesuai semangat penciptaannya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia.
Di akhir paparannya, Adhie mengusulkan gagasan pembentukan Mahkamah Intelektual sebagai bagian dari upaya membuka ruang diskusi gagasan secara terbuka dalam pembangunan nasional.
“Jadi hari ini kita memulai Peradaban baru dengan keterbukaan, dengan mulai mempertengkarkan gagasan-gagasan. Karena itu saya mengajukan gagasan Mahkamah Intelektual. Jadi tidak boleh lagi ada pikiran atau gagasan yang dikubur tanpa suara oleh kekuasaan,” ungkapnya.


