Jakarta โ Peneliti makroekonomi InFast Bestari dan Monash University Malaysia, Hizkia Yosias Polimpung, menyatakan mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi kerangka transmisi kebijakan moneter BI, bukan hanya membahas aspek politiknya.
“Selama Perry memimpin, untuk siapa sebenarnya kebijakan moneter Indonesia bekerja?” kata Hizkia dalam pernyataannya, Senin (28/7).
Hizkia menyebut kelas menengah urban, yang menopang 81% konsumsi rumah tangga dan berkontribusi 55% terhadap PDB, mengalami tekanan dari dua arah. Kenaikan BI Rate menaikkan cicilan motor, KPR, dan BNPL, sementara pendapatan masyarakat stagnan. Di sisi lain, program bantuan sosial pemerintah menyasar kelompok termiskin sehingga kelas menengah tidak mendapat perlindungan dari kenaikan biaya hidup.
Berdasarkan data yang dipaparkan Hizkia, lebih dari 9 juta orang keluar dari kelas menengah antara 2019 dan 2023. Saldo tabungan di bawah Rp 100 juta turun 40% dalam lima tahun terakhir. Pangsa pengeluaran pangan kelas menengah naik dari 36,6% menjadi 41,3%.
Hizkia juga menyoroti penyaluran likuiditas BI senilai Rp 424,7 triliun melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Ia mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2026 yang menunjukkan kredit UMKM hanya tumbuh 0,60% secara tahunan, sementara kredit perbankan secara keseluruhan tumbuh 12,6%. Kredit usaha kecil, menurut data tersebut, mengalami kontraksi.
“Yang melonjak justru kredit ke BUMN sebesar 30% dan dana yang parkir di SRBI โ kini Rp 957 triliun, dengan 70% dipegang perbankan sendiri. Likuiditas ada, tapi tersaring habis sebelum menyentuh kelas menengah,” ujar Hizkia.
Ia menambahkan bahwa pergantian Gubernur BI hanya akan berdampak signifikan jika disertai perubahan kerangka analitik kebijakan moneter. Hizkia menyebut pendekatan inflation targeting, kurva Phillips, dan market-first yang selama ini digunakan perlu dipertanyakan oleh calon pengganti Perry.
“Pertanyaannya bukan siapa penggantinya, tapi apakah ia berani mempersoalkan asumsi yang selama ini dipakai,” kata Hizkia.


