Batam – Sejumlah jurnalis dari Persatuan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepulauan Riau dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam menggelar doa bersama di Taman Aspirasi, Batam Kota, Minggu (13/9) malam, menyusul hilangnya kontak delapan orang dalam rombongan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Delapan orang tersebut terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah menjalankan tugas peliputan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau menggunakan sebuah speedboat.
Ketua PFI Kepri, Tommy Purniawan, mengatakan doa bersama tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas sesama jurnalis terhadap rekan-rekan yang tengah berada dalam situasi darurat. Ia berharap proses pencarian yang dilakukan tim penyelamat segera membuahkan hasil.
“Saya bisa merasakan betapa sedihnya keluarga teman-teman kita yang belum ditemukan hingga saat ini,” kata Tommy.
Tommy menyampaikan pekerjaan jurnalistik membawa pewarta ke berbagai tempat dan situasi, termasuk lokasi yang tengah dilanda peristiwa berbahaya, untuk mendapatkan informasi bagi masyarakat.
“Ketika yang lain menghindari bencana, jurnalis justru mendatangi. Bukan karena kami tidak takut, tapi karena kami ingin mengabarkan informasi terbaru untuk masyarakat,” ujarnya.
Ketua AJI Batam, Yogi Eka Sahputra, juga menyampaikan dukungan dan doa bagi seluruh anggota rombongan yang belum ditemukan. Ia berharap proses pencarian dapat dilakukan secara maksimal sehingga seluruh anggota rombongan segera ditemukan dalam keadaan selamat.
“Solidaritas diperlukan bukan hanya ketika kabar buruk datang, tetapi juga untuk menguatkan keluarga dan rekan-rekan yang masih menunggu kepastian,” ujarnya.
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut yakni Muhammad Bagus Khoirunnas, pewarta foto Kantor Berita ANTARA Biro Banten; Arie Basuki, pewarta foto senior Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, jurnalis iNews; Firdaus Wajidi, jurnalis visual Anadolu Agency; serta Donal Husni, jurnalis lepas.
Sementara tiga orang lainnya merupakan kru kapal, yakni Warta selaku kapten atau nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu atau guide.
Hingga doa bersama digelar di Batam, proses pencarian terhadap kedelapan orang tersebut masih dilakukan tim Basarnas.


