Batam — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kepulauan Riau menginstruksikan seluruh madrasah di bawah naungannya untuk mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi sistem dalam jaringan (daring) menyusul kabut asap yang kian pekat di wilayah tersebut.
Kepala Kanwil Kemenag Kepri, Zostafia, mengatakan kebijakan itu diambil untuk menyelaraskan dengan maklumat Pemerintah Provinsi Kepri terkait ancaman kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
“Ya, kami sejalan dan mengikuti kebijakan serta maklumat dari pemerintah daerah terkait sistem pembelajaran dari rumah. Keselamatan dan kesehatan anak-anak kita di madrasah adalah prioritas utama di tengah kondisi kabut asap saat ini,” kata Zostafia saat dikonfirmasi Senin, 14 September 2026 malam.
Kebijakan tersebut merevisi arahan awal Kemenag Kota Batam yang pada Senin siang masih menjalankan pembelajaran tatap muka dan hanya meminta siswa menggunakan masker.
Zostafia menginstruksikan pihak madrasah tetap memberikan materi dan tugas secara terstruktur selama pembelajaran daring berlangsung. Ia juga meminta orang tua mengawasi anak-anak dan memastikan mereka mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kebijakan ini akan dievaluasi mengikuti perkembangan cuaca, jarak pandang, dan kualitas udara.
Sejalan dengan kondisi tersebut, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Batam tercatat terus meningkat. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Meldasari, mengatakan seluruh Puskesmas kini diwajibkan mengirimkan laporan kasus ISPA harian, dan pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
Data Dinkes Batam mencatat 6.061 kasus ISPA pada Juli 2026, atau rata-rata 1.515 kasus per pekan. Angka tersebut naik menjadi 7.245 kasus pada Agustus dengan rata-rata 1.811 kasus per pekan. Memasuki September, tercatat 2.316 kasus ISPA baru hanya dalam periode 7-12 September.
Merespons situasi tersebut, Dinkes Batam memperkuat edukasi masyarakat melalui Puskesmas mengenai risiko polusi udara dan langkah perlindungan diri. Dinkes juga tengah menyiapkan Surat Edaran Kewaspadaan terkait potensi dampak kesehatan dari kebakaran hutan dan lahan serta penyakit yang sensitif terhadap iklim kemarau, yang saat ini masih dalam proses penandatanganan.
Berdasarkan rilis Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, konsentrasi partikulat PM2.5 tercatat mencapai 88,7 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 WIB, masuk kategori tidak sehat. Jarak pandang di sekitar Batam juga menurun hingga 2,8-3 kilometer akibat jerebu yang mulai terlihat kasatmata di berbagai kawasan.
Hingga berita ini ditulis Selasa pagi, Kepala Kemenag Kota Batam Budi Dermawan belum memberikan respons saat dikonfirmasi mengenai tindak lanjut teknis di lapangan.


